Mutiara Islam: Syahwat dan Himmam

0
85
oleh: Imam Mahfudzi, Dosen PPNS Surabaya. Wakil Sekretaris PDM Sidoarjo. Juga pernah menjadi guru di smam1ta

 

Al-Hikam Pasal 2

Syahwat dan Himmah

“TAJRID dan KASAB”

إِرَ ادَ تُــكَ الـتَّجْرِ يْدَ مَـعَ إِقَامَـةِ اللَّهِ إِ يَّـاكَ فيِ اْلأَسْبَابِ مِنَ الشَّـهْـوَ ةِ الْخَفِـيـَّةِ.
وَ إِرَادَ تُـكَ اْلأَسْبَابَ مَعَ إِقَامَةِ اللَّهِ إِ يَّـاكَ فيِ الـتَّجْرِ يْدِ اِنحِطَاطٌ مِنَ الْهِمَّةِ الْعَـلِـيـَّةِ

“Keinginanmu untuk tajrid, sementara Allah masih menegakkan engkau di dalam asbab, merupakan syahwah yang tersamar (halus). Dan keinginanmu kepada asbab, pada saat Allah sudah menegakkan engkau dalam tajrid, merupakan suatu kejatuhan dari himmah yang tinggi.”

Agak sulit memberikan penjelasan atas ungkapan Ibnu Athoillah di atas. Tapi barangkali contoh nyata dalam hidup kita sehari-hari dapat memberikan gambaran yang lebih pas.
Kadang kita berada dalam tekanan pekerjaan yg tinggi, menyita waktu dan tenaga, bahkan membuat stress. Hingga kita merasa putus asa menyelesaikannya di satu sisi. Padahal, disisi lainnya ketuntasan pekerjaan kita ditunggu oleh orang lain.

Lantas pada saat seperti itu kita memutuskan melakukan tajrid (penyucian diri), beribadah sungguh-sungguh kepada Allah, bertahannuts, ber’uzlah atau apapun namanya. Maka keputusan beribadah dlm situasi itu,dengan meninggalkan aktifitas yg seharusnya kita lakukan, sangat tidak tepat; ekspresi nafsu duniawi yg tersembunyi dan samar; sebab sebenarnya kita ingin melepaskan tanggung jawab dan merasakan ketenangan duniawi dengan menyembunyikan diri dalam ibadah.

Sebenarnya Allah sedang menempatkan kita pada situasi sebab akibat; menjadikan kita punya tanggung jawab amal, berjuang atau berjihad sehinggaAllah dapat mengetahui level kekuatan, kesabaran dan ketahanan kita, tapi kita lepas tanggung jawab, mengikuti nafsu nyaman dunia dengan bersembunyi dalam ibadah.

Sebaliknya, kadang kita sdh ada pada waktu dan tempat yg mengarahkan kita untuk bertajrid, membersihkan diri, beribadah. Allah sebenarnya menginginkan supaya kita beribadah kepadaNya…tapi kita beralasan ada pekerjaan, banyak kesibukan, ataupun alasan serupa.

Seringkali kita dibangunkan Allah SWT pada malam hari agar kita beribadah kepada Nya, apakah dengan cara tangisan anak yang minta minum,ngompol, atau tiba-tiba kita pengen ke belakang, atau merasa haus, dalam contoh lain sering kita diberi kelonggaran Rizki agar kita berinfaq, membayar zakat atau bahkan menunaikan ibadah haji.

Baca Juga: Kultum Siswa, 3 Faktor Penentu Akhlak Yang Baik

Disitu lah sebenarnya Allah sedang menempatkan kita pada kondisi harus bertajrid, membersihkan diri, dan beribadah. Tetapi kita sering mengabaikannya dengan alasan belum sempat, sibuk ada pekerjaan yg masih harus diselesaikan. Kita bisa jadi bangun malam membuat kan minum anak, atau ke belakang,atau sekedar minum lalu kembali tidur dengan alasan masih lelah.

Itulah situasi kejatuhan dari himmah yg tinggi, dari keinginan yg luhur, dari keinginan ukhrawi kepada keinginan duniawi, keinginan rendah, atau syahwat. Jatuh sebab kita dipanggil Allah SWT untuk menghadap tapi kita justru berpaling kepada dunia yang rendah.

{ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ أَيْنَ مَا ثُقِفُوا إِلَّا بِحَبْلٍ مِّنَ اللَّهِ وَحَبْلٍ مِّنَ النَّاسِ وَبَاءُوا بِغَضَبٍ مِّنَ اللَّهِ وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الْمَسْكَنَةُ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ كَانُوا يَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَيَقْتُلُونَ الْأَنبِيَاءَ بِغَيْرِ حَقٍّ ۚ ذَٰلِكَ بِمَا عَصَوا وَّكَانُوا يَعْتَدُونَ} [آل عمران : 112]

Mudah-mudahan Allah SWT memberikan Taufik dan hidayah-Nya kepada kita supaya kita tdk terjebak dalam dua keadaan diatas. Supaya kita dapat menyelesaikan tugas sebab-akibat dengan menjalankan amanah untuk sesama manusia, dan mudah2an kita diberi Allah SWT kekuatan menjalankan ibadah kepada-Nya ditengah-tengah kesibukan kita yang menipu. Amin…..
Wallahu a’lam bis shawab…..

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here