foto: Syaiful Bahri, Kanan, Ketua Pokja Komnas Perlindungan Anak Surabaya-Sidoarjo

 

foto: Syaiful Bahri, Kanan, Ketua Pokja Komnas Perlindungan Anak Surabaya-Sidoarjo.

 

Syaiful Bahri, Sp. CH., CHT. Ketua Pokja Komnas Perlindungan Anak Surabaya – Sidoarjo, berkesempatan membagi cerita mengenai kekerasan kepada anak, untuk SMAM1TA, disela-sela acara parenting, Expo Amal Usaha Pendidikan Muhammadiyah dan Aisyiyah (AUDIKMA) Minggu, (01/04/2018).

Syaiful -sapaannya- berbagi kiat bagaimana menangani kekerasan fisik dan kekerasan verbal terhadap anak itu. Penanganan pertama, bagaimana kita untuk membekali, baik dari orang tua maupun dari guru. Khususnya untuk perlindungan anak sendiri, termasuk anak-anak yang korban kekerasan. Karena, kekerasan itu ada yang berupa kekerasan fisik, dan ada yang verbal. Dari verbal ini termasuk yang bulliying.

Bulliying ini disebabkan karena, ada satu yang dominan, ada satu yang lemah. Itu karena adanya kurang perhatian, atau ingin mencari perhatian. Atau bisa juga adanya teman yang merasa paling minim. Tapi semua itu tercetus, dan dimunculkan, salah satunya adalah karena di rumah kurang bahagia.

Ketika menemukan anak yang merasa dibully, kemudian tidak mau melaporkan, bagaimana kita menyikapinya. “Yaitu, salah satunya, kami ingin bahwa disetiap sekolah itu ada yang namanya konselor sebaya.” Kata Koordinator PAUD institut Jawa Timur kepada staff Humas SMAM1TA, Emil Mukhtar Efendi.

Baca, Sekretaris PWM Jatim : SMAM1TA. Semakin Joss

Konselor sebaya ini adalah, teman-teman yang menjadi tempat curhat, tempat untuk dengerin, karena kalau dia ke guru, biasanya dia takut. Nah, disitu bagaimana teman-teman ini, (katakanlah seperti ekstra) tapi ada kekhususan bagaimana untuk mendampingi untuk anak-anak ini (korban bulliying). Sehingga dia menjadi teman untuk curhat, teman untuk berbagi, teman untuk share, termasuk dia mau diapain.

Kemudian, termasuk anak yang biasanya ramai, kemudian menjadi pendiam. “Itu adalah salah satu penyebabnya Ia di bully. Baik di bully di rumah maupun dibully di sekolah.” terang Syaiful.

Pemilik Lembaga Parenting Cangkrukan Surabaya ini menjelaskan kriteria konselor sebaya. “Kriteria utama yang layak untuk menjadi konselor teman sebaya adalah, minimal dia peduli kepada temamannya itu. Dan dia mau mendengarkan, itu kriteria utamanya. Karena disitu, sifat dasar manusia. Terkadang, manusia perlu ada yang didengarkan, dan ada yang perlu mendengarkan. Disinilah yang menjadi penghubung.” tandas Syaiful sambil duduk santai di main stage Expo.

Baca Juga: Brand Manajer Bank Muamalat di Stand Expo SMAM1TAb

Sebagian siswa, jika sudah masuk ke BP/BK, image-nya sudah tidak bagus. Maka, sebelum masuk kesana, sudah ada pendampingan-pendampingan dari teman-temannya, termasuk menjadi pendamping, bukan pemberi keputusan. karena, keputusan tetap berada di tangan guru BP/BK. Emil

Baca Juga: Konselor Sebaya, Bukan Tempat Pengambil Keputusan