Syariat puasa sudah ada sejak masa nabi-nabi terdahulu. Hanya saja, syariatnya ada yang berbeda dengan kita.

Kenapa, sebelum Nabi lahir, bangsa Arab termasuk bangsa yang rusak moralnya (jahiliah sekali) dibanding bangsa lain.

Namun, masih ada sedikit yang menganut agama hanif nabi Ibrahim, yaitu menyembah Allah di tengah-tengah kaum yang menganut ajaran paganisme/agama watsaniah (menyembah berhala).

Bangsa Arab yang hanif itu, mereka sering berpuasa beberapa hari pada bulan-bulan yang panas.

Hal ini pernah dilakukan nabi dengan beruzlah/berkhalwat/mendekatkan diri kepada Allah didalam gua dengan membawa bekal seadanya.

Dan ketika nabi berkhalwat pada bulan Romadlon, Allah menurunkan wahyu kepadanya.

Sebelum puasa Romadlon diwajibkan nabi terbiasa puasa pada tengah bulan. Tepatnya tgl 13,14,15 atau yang sering disebut puasa Ayyamul bith.

Ketika nabi hijrah ke Madinah, dan tepatnya pada tahun kedua hijriah, Allah mulai mewajibkan puasa Romadlon. Karena hari-hari yang panas sering terjadi pada bulan Romadlon.

Sesuai namanya, Romadlon berasal dari kata Romdlo’, yang artinya adalah panas yang membakar.

Oleh karena itu, puasa akan membakar dosa-dosa kita dengan menahan diri dari makan, minum, menahan nafsu dari terbit fajar sampai terbenamnya matahari. Yang didalamnya disunnahkan sahur, dan tarawih sebagai ibadah tambaha

Inilah yang membedakan puasa umat Islam dengan puasa umat lainnya.

Tujuan puasa sendiri supaya mencapai derajat taqwa bagi yang melaksanakannya.

Sehingga, bulan Romadlon adalah bulan yang penuh rahmat bagi umat Islam, baik yang masih hidup maupun yang sudah mati.

Bagi yang masih hidup, Allah melipat gandakan pahala kebaikan-kebaikan, agar kita memperbanyak ibadah.

Ibadah adalah kedekatan kita dengan Allah yang menjadi energi positif. Begitu juga bagi yang sudah mati, Allah bebaskan mereka dari adzab kubur. Irashatie

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here