Mendikbud Prof. Muhadjir Effendy, MAP.

 

Menteri pendidikan dan kebudayaan (Mendikbud) Prof. Muhadjir Effendy, MAP fasih dalam melantunkan lirik qosidah. Hal itu ia ceritakan, ketika diundang Cabang Tulangan-Sidoarjo. Dalam acara pengajian Aisyiyah, kala itu, undangan dihadiri sekitar 5.000 orang. “Yang hadir sekitar lima ribu ibu Aisyiyah, tapi panitianya ibu-ibu Muslimat, kompak sekali.” Kata pak Mendikbud saat memberi motivasi pendidikan di agenda peresmian Gedung Smamita Tower, Ahad (19/08/2018).

Baca: Mendikbud dan Ketum PP Muhammadiyah resmikan Gedung Smamita Tower

Karena Aisyiyah tidak punya group Qosidah, maka, acara musik qosidah diisi oleh ibu Muslimat. “Akhirnya, Qosidahnya diisi dari ibu-ibu Muslimat, dan lagunya itu bagus, saya hafal liriknya. Itu judulnya Matahari Dunia, heheeee.” Ungkap mantar rektor UMM, yang tak luput mengundang tawa para undangan.

Baca juga: Mendikbud sarankan sekolah favorit tak ikuti system zonasi

Baginya, Itu merupakan hal yang bagus, menjadi jadi simbolik kerukunan yang luar biasa dalam lirik yang dinyanyikan. Karena itu simbiotik sekali antara peranan NU (Nahdlatul Ulama) dan Muhammadiyah, karena judulnya matahari dunia. Begini kiranya lirik yang Mendikbud nyanyikan.

Dilangit ada matahari, bersinar menerangi bumi.
Dilangit ada matahari, bersinar menerangi bumi.
Cahayanya yang tajam, menembus kegelapan.
Menerangi seluruh alam.

Dibumi ada para nabi, utusan robbul izzati.
Dibumi ada para nabi, utusan robbul izzati.
Membawa kebenaran, mencegah kebatilan.
Petunjuk jalan keselamatan.

“Jadi, sebetulnya matahari dan bumi itu punya kelebihan masing-masing. Dan bagus sekali, itu simbol Nabi. Jadi, sebenarnya baik NU dan Muhammadiyah itu rujukannya kepada Nabi. Kemudian, di syair berikutnya itu.” terang Mendikbud.

Kemudian, dilanjutkan lirik itu dibagian reff,

Nabi Muhammad, Nabi Akhir Zaman.
Rahmat bagi, umat diseluruh alam.
Nabi Muhammad, mataharinya dunia.

“Nah, itu ibu-ibu Aisyiyah harus hafal itu.” kelakar pak menteri yang disambut tepuk tangan, yang tiada hentinya pak menteri menghibur undangan yang hadir.

Baca juga: Studi banding itu harus perhatikan tiga T

Bagi Mendikbud, lagu itu bagus dan harmoni sekali. Menurutnya, Sidoarjo bisa menjadi miniatur contoh bagaimana kerukunan umat. “Dan menurut saya, Sidoarjo ini bisa jadi miniatur contoh bagaimana kerukunan umat, menegakkan keutuhan Islamiyah. Karena kita ini, bangsa kita punya problem kerukunan intern sendiri.” Ujar Muhadjir.

Lebih lanjut, jika di intern umat Islam ini mengutamakan perbedaan, dan perpecahan, lebih mengutamakan masing-masing golongannya, itu tidak akan membawa Indonesia maju. Tapi kalau kita lebih mengedepankan persatuan, kebersamaan, saling bahu membahu, bahwa siapapun orangnya saling melengkapi. Itu, ia kira Insya Allah akan membawa Indonesia lebih maju, kedepan semakin maju.

“Jadi, kita ini ditakdirkan oleh Allah punya kelebihan masing-masing. Dan, kalau kelebihan-kelebihan itu dikumpulkan, itu menjadi luar biasa. Jangan melihat kekurangannya, kalau kurang masing-masing, jadi kurang semua. Tapi, kalau dilihat kelebihan, itu jadi luar biasa.” Jelasnya.

Baca juga: Ini enam karakter yang harus tumbuh di sekolah

Mantan rektor UMM ini juga merasa senang, setelah mendapat laporan dari kepala Smamita, Drs. Zainal Arif, bahwa  kerukunan warga lingkungan sekitar dengan Smamita cukup harmoni sekali. Apalagi sambutan hangat dari takmir Masjid Roudhotul Jannah, masjid ranting NU, ketika proses pembangunan gedung delapan lantai itu, membuat siswa Smamita harus berjama’ah di masjid tersebut.

“Pertama kali saya merasa senang, mendapat laporan dari kepala sekolah, bahwa kehidupan kerukunan terjalin sangat baik.” Ujar pak Menteri

Ia juga menjelaskan, seperti pesan yang sering disampaikan pak Presiden, bahwa kita itu punya harta, bukan benda yang sangat mahal. Yaitu, semangat persatuan, persaudaraan dan kerukunan. Kalau persatuan dan kerukunan itu dibina betul, Insya Allah, Indonesia itu akan abadi.

“Indonesia akan bisa berkembang, akan saling bahu-membahu, saling tolong-menolong, dan saling membangun Indonesia, untuk menuju Baldatun Toyyibatun wa robbun Ghofur.” Terangnya. Emil

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here