Mendikbud RI, Prof. Muhadjir Effendy, MAP.

 

Kalau studi banding itu, jangan meniru apa yang mereka lakukan. Tetapi, harus tonton, tiru, tambah. Hal itu disampaikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Mendikbud), Prof. Muhadjir Effendy, MAP., saat meresmikan gedung pusat belajar SMA Muhammadiyah 1 Taman – Sidoarjo (SMAMITA). Yang dikenal dengan Gedung Smamita Tower, Ahad (19/08/2018).

Baca: Mendikbud dan Ketum PP Muhammadiyah resmikan Gedung Smamita Tower

Mendikbut menjelaskan, bahwa ada hal-hal penting yang harus dilakukan oleh sekolah ketika studi banding. Yaitu, dilihat, ditiru, tapi harus ditambahi, kalau dia begini, berarti saya harus lebih begini. Jangan meniru, apalagi kalau menirunya lebih bawah dari apa yang ditiru, tidak perlu studi banding kalau itu. “Jadi, studi banding itu Tiga T, Tonton, Tiru, Tambah. Jangan hanya nonton saja, kemudian dirasa sudah sukses.” Kata Muhadjir yang juga ketua PP Muhammadiyah.

Yang kedua, Mendikbud merasa sangat salut dengan apa yang dilakukan Smamita. Dengan berani melakukan terobsan, pembangunan yang luar biasa. Baginya, Muhamadiyah itu kekurangannya satu, yaitu berani mengambil resiko. Didunia ini semakin tidak mentoleransi orang yang tidak berani mengambil resiko. “Orang yang berhasil itu orang yang berani mengambil resiko, dan resiko itu memang harus dihitung betul, tetapi jangan ragu dengan resiko yang harus dihadapi. Karena kalau kita selalu ragu mengambil resiko, kita tidak akan pernah maju. Memang hidup ini penuh resiko.” Pesannya.

Dia juga mengatakan, jangankan membangun gedung tinggi, tidur saja ada resikonya. Seperti saudara kita yang ada di Lombok Nusa Tenggara Barat (NTB), banyak yang mati karena tidur, karena mati tertimpa plafon atap rumah.

“Jadi, jangan dikira kalau sudah tidur dirumah itu aman, belum tentu juga. Tidur saja punya resiko, apalagi membangun gedung ini (Gedung SMAMITA), tapi harus dihitung dengan matang memang.” Kata mantan rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).

Baca juga: Mendikbud fasih ber-Qasidah

Mendikbud merasa senang, ketika turun dari jabatan rektor UMM, Muhammadiyah Jawa Timur sudah mulai jor-joran adu hebat. “Alhamdulillah, di Jawa Timur ini banyak yang gila-gilaan saya kira. Setelah saya turun dari rektor UMM, perguruan tinggi di Sidoarjo, Surabaya, jor-joran untuk adu hebat, itulah yang dinamakan Fastabiqul Khoirot yang sesungguhnya.” ujarnya dengan penuh rasa bangga.

Ia juga mengungkapkan, bahwa biaya pembangunan gedung Smamita Tower ini tidak ada bantuan sama sekali dari pemerintah melalui Kemendikbud. “Dan betul, ini (gedung) tidak ada bantuan sama sekali dari Kemendikbud, memang tidak bisa dibantu.” Ungkap Mendikbud kepada para undangan yang hadir, juga wartawan yang turut meliput agenda tersebut.

“Saya harus katakan dengan jujur, walau menteri Muhammadiyah. Tapi saya tidak gampang kemudian asal bantu.” Kata bapak tiga orang anak itu.

Baca juga: Mendikbud sarankan sekolah favorit tak ikuti system zonasi

Semua jenis bantuan, itu ada kriterianya, ada standartnya, ada ketentuannya untuk memberi bantuan. Dan, Mendikbud tidak pernah ikut campur dalam hal penyaluran segala macam jenis bantuan yang dikeluarkan oleh Kemdikbud.

“Tanya saja sama pak Dirjen, pak Purwadi Direktur P SMA. Apakah saya pernah iktu campur ngatur-ngatur, nggak ada. Karena disana sudah ada standartnya, kriterianya, mana yang dibantu dan mana yang tidak.” Terang pak menteri itu.

Kalau kemudian Mendikbud ikut-ikut, itu sama saja turut merusak aturan. Dan siapapun yang merusak atauran, atau pejabat kok merusak aturan, itu salah. Jangankan Tuhan, setan sajapun juga marah. Karena itu, seorang pejabat, harusnya memberi contoh yang baik.

“Saya kepingin beri contoh, kalau orang Muhammadiyah itu diberi amanah, tidak kemudian lebih mementingkan golongannya.” Terang pak Menteri kelahiran Madiun 1956 .

Baca juga: Ini enam karakter yang harus tumbuh di sekolah

Ia melanjutkan, karena kalau bisa dilist, lihat bantuan itu, Insya Allah Muhammadiyah tidak seberapa dibanding dengan yang lain. Hanya memang karena Muhammadiyah itu namanya seragam, itu sering orang tidak paham. “Apapun Muhammadiyah, TK Muhammadiayh, SD Muhammadiyah, SMP Muhammadiyah, bahakan WC pun namanya Muhammadiyah. Sementara yang lain itu kan macam-macam namanya.” kata pak menteri sembari tersenyum.

Jadi, kalau ada 200 sekolah yang dibantu Kemedikbud, kemudian ada 20 atau 25 sekolah Muhammadiyah, itu anggapannya paling banyak. “Loh itu kok Muhammadiyah semuanya, ya karena memang itu namanya Muhammadiyah, yang lainnya kan tidak?, Ini yang bikin orang salah paham. ” kata pak Menteri, khas dengan pecinya. Emil

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here