Ditulis oleh : Putri Wulan Cahyani

 

Seringkali rasa iba datang ketika melihat saudara kita berada dibawah kita. Lantas, sudahkah kita membantu saudara kita yang membutuhkan? Membantu tak melulu dengan materi. Banyak hal yang dapat dilakukan untuk membantu sesama. Semua dilakukan sesuai dengan kemampuan kita.

Kasih sayang anak sepanjang galah, kasih sayang orang tua sepanjang jalan. Rupanya pepatah itu memang benar adanya. Sebut saja Pak Manggasri. Beliau adalah penjual rangin yang biasanya mangkal di depan SMA Muhamnadiyah 1 Taman ketika jam pulang sekolah. Beliau berasal dari Brebes, Jawa Tengah. Beliau sudah berdagang selama 30 tahun. Memiliki tiga anak rupanya tak membuat beliau puas hati. Karena beliau memilih untuk mengontrak rumah sendiri daripada ikut serumah dengan sang anak. Sang istri pun bertahan di kampung halaman dengan menjadi seorang petani.

Berdagang tiga puluh tahun rupanya tidak membuat beliau mampu menikmati masa tuanya. Dengan pendapatan bersih hanya Rp. 75.000,- perhari. Beliau patungan bersama tukang becak untuk membayar biaya kontrak rumah yang besarnya Rp. 2.500.000,- pertahun.

Semangat hidup Pak Manggasri memang patut diacungi jempol. Keberaniannya untuk merantau meninggalkan kampung halaman demi menghidupi diri dan keluarga merupakan hal yang hebat. Tak berharap dirinya diberi iba oleh orang lain, justru semakin memantik semangatnya untuk bekerja di usia yang tidak lagi muda. Hal ini patut di contoh dan di teladani anak muda jaman sekarang. Bahwa bekerja keras di usia muda bukanlah hal yang sia-sia. Lakukan kerja keras saat masih muda, kemudian kerja cerdas saat tua. Percaya pada kemampuan sendiri dan semangat adalah faktor utama.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here