Sirine peringatan Gemmpa Bumi dan Tsunami

 

Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor non alam, maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis.

Sedangkan bencana alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam antara lain berupa gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, kekeringan, angin topan, dan tanah longsor. (UU Nomor 27 Tahun 2007)

Gempa bumi, salah satu dari jenis bencana alam. Gempa bumi memang bukan hal baru bagi Indonesia. Kalau kita lihat secara geologis, Letak Indonesia yang menjadi pertemuan antara 3 lempeng tektonik, yaitu: Lempeng Indo-Australia, lempeng Eurasia, dan lempeng Pasifik menjadi penyebab seringnya Indonesia terkena gempa bumi tektonik.

Lempeng Indo-Australia bergerak relatip ke arah utara dan menyusup kedalam lempeng Eurasia, sementara lempeng Pasifik bergerak relatip ke arah barat. Jalur pertemuan lempeng berada di laut sehingga apabila terjadi gempa bumi besar dengan kedalaman dangkal maka akan berpotensi menimbulkan tsunami sehingga Indonesia juga rawan tsunami.

Humas BNPB Indonesia, Sutopo Purwo Nugroho dalam Web Resmi BNPB menyatakan, untuk potensi bencana tsunami, Indonesia menempati peringkat pertama dari 265 negara di dunia yang disurvei badan PBB itu.

Resiko ancaman tsunami di Indonesia bahkan lebih tinggi dibandingkan Jepang. Dalam itung-itungan UNISDR, ada 5.402.239 orang yang berpotensi terkena dampaknya. (Sumber: BNPB 2018).

Belum kering air mata masyarakat Indonesia karena Tsunami di Sulawesi Tenggara 28 September 2018 yang menelan korban 2045 tewas (menurut BNPB per 10 Oktober 2018), masyarakat kembali dikejutkan peristiwa bencana alam lagi.

Iya, dalam akun resmi BMKG Indonesia menyebutkan bahwa 22 Desember 2018 pukul 21.30 WIB terjadi Tsunami di Selat Sunda yang penyebabnya bukan gempa tektonik, tapi indikasi tsunami mengarah pada peristiwa longsor bawah laut akibat erupsi gunung anak Krakatau di dasar laut sehingga terjadi kenaikan gelombang laut yang tinggi.

Akibatnya warga yang saat itu berada di sekitar pantai di selat Sunda terkena dampaknya. Sekitar 62 orang tewas dalam Tsunami ini menurut pantauan sementara BNPB. Dan data utu akan terua berubah, seiring proses pencarian korban masih terus berlanjut.

Sedangakn di bagian timur Indonesia, tepatnya Lombok , terjadi Gempa bumi tektonik magnitudo 4,5 yang mengguncang daerah setempat, Sabtu (22/12/2018) pukul 13.58 WITA.

Gempa ini sempat dirasakan Rendy Irwan, Kapten Persebaya yang sedang beristirahat Di Hotel lombok menjelang pertandingan sepak bola melawan PSKT sumbawa.

Dalam cuitannya di whatsapp, dia mengungkapkan, terasa sekali getaran Gempa tersebut. Dan gempa ini tidak menelan korban jiwa.

Menilik kembali ke letak geologis kita, serentetan peristiwa gempa bumi tersebut bukan tanpa sebab. Jalur pertemuan 3 lempeng di Indonesia juga membentuk lipatan kulit Bumi yang dikenal dengan jalur pegunungan lipatan. Salah satunya adalah jalur pegunungan lipatan muda.

Secara geologis, letak wilayah Indonesia sendiri dilalui oleh 2 jalur pegunungan muda dunia, yaitu pegunungan sirkum Mediterania di sebelah barat, dan pegunungan sirkum Pasifik di sebelah timur. Keadaan ini tentu saja membuat wilayah Indonesia banyak memiliki gunung api yang aktif salah satunya gunung anak Krakatau.

Letaknya yang berada didasar laut ketika erupsi, maka akan menimbulkan gempa bumi vulkanik.

Jadi, apa yang perlu kita lakukan terkait peristiwa bencana alam tersebut?. Banyak hal yang bisa kita lakukan untuk itu.

Pertama, kita harus menghormati kekuatan alam, karna kita tak akan bisa mengendalikanyya. Gempa atau bencena alam tidak dapat diprediksi waktu kejadianya.

Kemudian, kita juga perlu bertanggungjawab atas bumi ini, dengan menjaga bumi ini agar bumi tidak marah.

Ketiga, harus melakukan antisipasi mitigasi bencana sedini mungkin. Kita harus Mengetahui apa yang perlu dilakukan dan dihindari, serta mengetahui cara penyelamatan diri jika bencana timbul.

Kita perlu berterimakasih kepada mereka, yang dalam situsi sulit tetap bekerja keras untuk membantu mereka yang selamat maupun yang menjadi korban bencana alam ini. Dan yang masih teringat dibenak penulis ketika berkunjung ke Kantor BPBD Jawa Timur, ketika kita sedang tidur ada pihak pihak yang senantiasa memantau alam untuk selalu waspada dan menginformasikan kepada masyarakat terkait peristiwa alam yang terjadi di sekitar kita.

Terkahir, kita harus bersahabat dengan alam, dan bersahabat dengan bencana. Kuncinya mitigasi bencana masuk dalam kurikulum sekolah.

 

Penulis: Wahyu Murti, guru Geografi SMA Muhammadiyah 1 Taman.