Sirine peringatan Gemmpa Bumi dan Tsunami

 

Lagi-lagi, Indonesia sedang dilanda bencana alam. Atau, kita kenali dengan Gempa Bumi yang disertai Tsunami. Nampaknya, kita (Indonesia) wajib untuk bersahabat dengan bencana alam. Bagaimana dan kapan bencana biasa terjadi?. Mari kita pelajari bersama.

Kenapa Indonesia sering terjadi Gempa dan Tsunami?

Dilansir melalui laman web Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), menerangkan. Secara geografis Indonesia merupakan negara kepulauan yang terletak pada pertemuan empat lempeng tektonik yaitu lempeng Benua Asia, Benua Australia, lempeng Samudera Hindia dan Samudera Pasifik. Pada bagian selatan dan timur Indonesia terdapat sabuk vulkanik (volcanic arc) yang memanjang dari Pulau Sumatera ? Jawa – Nusa Tenggara ? Sulawesi, yang sisinya berupa pegunungan vulkanik tua dan dataran rendah yang sebagian didominasi oleh rawa-rawa.

Kondisi tersebut sangat berpotensi sekaligus rawan bencana seperti letusan gunung berapi, gempa bumi, tsunami, banjir dan tanah longsor. Data menunjukkan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kegempaan yang tinggi di dunia, lebih dari 10 kali lipat tingkat kegempaan di Amerika Serikat (Arnold, 1986).

Kemudian, Sutopo Purwo Nugroho, kepala pusat data informasi humas BNPB menerangkan, untuk potensi bencana tsunami, Indonesia menempati peringkat pertama dari 265 negara di dunia yang disurvei badan PBB itu. Resiko ancaman tsunami di Indonesia bahkan lebih tinggi dibandingkan Jepang. Dalam itung-itungan UNISDR, kata Sutopo, ada 5.402.239 orang yang berpotensi terkena dampaknya.

Peristiwa gempa dan tsunami yang terjadi pada September hingga Desember 2018.

Pertama, terjadinya gempa bumi dengan magnitude 6.9 pada hari Minggu,19 Agustus 2018 jam 21:56:27 WIB. Pusat gempa berada di kedalaman 10 km dan berada di laut 30 km arah timur laut Lombok Timur , Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Kedua, Gempa bumi dan tsunami Sulawesi 2018 adalah peristiwa gempa bumi berkekuatan 7,4, diikuti dengan tsunami yang melanda pantai barat Pulau Sulawesi, Indonesia, bagian utara pada Jumat, 28 September 2018, pukul 18.02 WITA.

Ketiga, Gempa Situbondo – Jawa Timur, dengan kekuatan Magnitudo 6,3 mengguncang sebagian wilayah Jawa Timur pada Kamis, 11 Oktober 2018, pukul 01.57 WIB.

Dan yang terakhir kita ketahui, peristiwa Tsunami di Pantai Barat Provinsi Banten yang diberitakan akitbat erupsi anak gunung krakatau pada Sabtu, 22 Desember 2018, malam hari sekitar pukul 21.27 WIB.

Kapan Bencana biasanya terjadi?

22 November 2018 lalu, SMAMITA berkesempatan untuk berkunjung ke kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Timur, Jl. Letjen S. Parman, No. 55, Krajan Kulon, Waru, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur.

Ditemui Gangsar Aryo Yuwono, anggota tim teknis BPBD Jatim, kami ditunjukan sebuah data yang dikumpulkannya (BPBD), kejadian bencana, ‘besar kemungkinan’ terjadi saat kebanyakan orang sedang santai.

Lebih lanjut Gangsar menegaskan, “artinya, mereka yang semua sedang berlibur, atau mungkin menjelang liburan, usai liburan, ataupun saat istirahat,” tegasnya.

Boleh dipercaya atau tidak, kita tidak boleh mendahului kuasa Allah Ta’ala yang menciptakan seluruh alam semesta. Namun, kita diminta belajar dari itu semua. Tetap waspada, berdoa, dan beribadah kepada-Nya.

Apa yang harus kita lakukan?

Dipenghujung tahun 2018 ini. Semua orang disibukkan dengan libur panjang. Termasuk anak sekolah yang masuk musim libur semester. Salah satunya, diri kita pribadi, juga keluarga.

Bukan tidak boleh kita berpergian atau berwisata untuk sekedar bercengkrama bersama keluarga, atau sekedar melepas lelah setelah beraktifitas penuh.

Banyak aplikasi yang bisa kita download untuk mengetahui kejadian bencana alam. Seperti earthquake alert, aplikasi yang ditunjukkan kejadian gempa yang ada diseluruh dunia.

Atau, kita bisa melihat di laman, maupun media sosial milik Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (disingkat: BMKG) untuk mengetahui cuaca sebelum kita berpergian. Atau Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (bahasa Inggris: Centre of Volcanology and Geological Hazard Mitigation) (disingkat PVMBG) untuk yang akan berpergian ke kawasan pegunungan berapi aktif.

Yang lebih penting, kita tetap berdoa, melaksanakan ibadah tepat waktu. Serta selalu behati-hati dan waspada ketika berpergian. Emil