Kiri: Drs. H. Musyafak (foto: emil)

Kehadiran Drs Musyafak menjadi agenda yang selalu diselipkan seusai shalat Duhur dilaksanakan setiap ada agenda kajian. Kenapa, Kyai ini juga pandai ketika mengeluarkan joke-jokenya untuk membuat rasa ngantuk peserta Kajian hilang.

Wajar saja, ia didatangkan untuk kegiatan Kajian Ramadhan 1440 H yang diselenggarakan oleh Majelis Tabligh dan Dakwah Khsusus Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Sepanjang di Aula Mas Mansyur, Ahad (26/5/2019) dimulai dari jam 8.00 pagi, hingga buka puasa tiba.

Dalam paparan materinya, pak Musa – sapaan akrabya– membuat peserta terpingkal-pingkal agar rasa kantuk benar-benar hilang.

Pak Musa ini bercerita, ada seorang penjual jajanan yang menurutnya pakarnya Apem (jajanan yang biasa digunakan untuk selamatan orang meninggal), dan kemudian ditanyakan tentang itu apem untuk diganti dengan jajanan lainnya.

“Neng, apem iku umpamane diganti kucur iku gak oleh ta?,” tanyanya. Maksudnya, mbak, jajanan apem itu diganti dengan jajan kucur apa tidak boleh.

“Loh ya gak oleh talah, wong apem iku terkait dengan doa,” kata pak Musa menirukan ibu penjual jajanan tersebut.

“Loh, wong apem iku yo badhogan, kucur iku ya badhogan,” ujar pak Musa dibarengi gerr-geran tawa peserta Kajian Ramadhan PCM Sepanjang.

Maksdudnya, padahal jajanan apem dan jajanan kucur itu juga makanan kok gak boleh ditukar.

Artinya apa, lanjut pak Musa kepada peserta kajian, yang berhubungan dengan doa itu adalah orangnya, diri manusia masing-masing, bukan makanannya.

“Dan saya herannya lagi, pemimpin kita, kok senengane Apem,” lanjut pak Musa yang membuat peserta semakin tak tertahan tawanya.

Kita ini, sambungnya, punya kecenderungan memodifikasi urusan agama, membikin sesuatu yang baru. Yaitu ibadah-ibadah yang sudah dipatenkan, masih saja ditambah ini dan itu.

“Untuk itulah, Muhammadiyah hadir memurnikan kembali ajaran Islam yang sesungguhnya,” pungkasnya. emil