Tangis Tak Terbendung Ketika Alumni Guru Smamita Ikut Buka Puasa

Menjadi alumni guru di SMA Muhammadiyah 1 Taman (SMAMITA), kemudian mendapat undangan untuk berbuka puasa bersama, menjadi cerita tersensiri. Bukan hanya senang, luapan tangis juga terjadi diwaktu yang sama.

Susiana, guru Bahasa Indonesia pernah mengajar puluhan tahun di SMAMITA menangis tersedu ditengah acara buka bersama alumni guru yang diadakan di gedung Smamita, Rabu (39/5/2019).

Perasaan campur aduk itulah yang membuatnya menangis tak terbendung.

“Saya senang melihat kekeluargaan disini masih ada, walaupun kami tidak mengajar disini lagi tapi kami merasa diakui dan dihargai,” katanya.

Kedua, lanjutnya, juga sedih karena ada satu teman yang tidak bisa datang, yaitu bu Yayuk.

“Setelah kepergian suaminya terlihat sekali perubahannya, ia sudah lebih dari kehilangan separuh jiwannya. Badannya semakin kurus dan sering sakit, saya sudah beberapa kali bertemu dengannya dan dikesempatan ini saya ingin menghiburnya namun bu yayuk ternyata berhalangan hadir itu yang membuat saya sedih,” ceritanya sambil mengusap tetesan air mata itu yang terus mengalir dari kedua bola matanya.

Dengan mata yang berbinar-binar, ia juga terharu melihat perubahan besar terjadi di Smamita.

“Sekolah ini begitu megah, jelek-jelek gini saya juga sedikit ikut membangun sekolah ini, dan itu merupakan kebanggaan tersendiri untuk saya,” ujar ibu yang masih berkegiatan di Aisyiyah Sukodono.

Pesan saya, sambung dia, tolong dijaga kualitasnya banyak sekali sekolah besar yang jatuh karena tidak menjaga kualitas, salah satunya yang paling penting adalah pendidikan agama dan moral anak didiknya.

Ia yang sekarang mengajar di SMKN di kawasan Buduran juga bercerita, banyak sekolah yang mulai tidak jujur.

“Saya sering mendengar beberapa wali murid yang protes karena membiarkan anak didiknya tidak jujur, salah satunya di sekolah anak saya, seorang teman wali murid mengkritik, karena anaknya masih dibiarkan membawa HP saat ujian untuk browsing,” ungkapnya.

Saya yang merasa sebagai bagian dari Muhammadiyah, lanjutnya, ikut bertanggung jawab atas itu dan saya sampaikan ke berapa sekolah Muhammadiyah.

“Untuk membangun sekolah besar itu tidak semudah membalikkan telapak tangan, sayang sekali kalau harus sampai jatuh,” katanya.

Lebih jauh, ia menekankan, Profesionalisme dalam pelayanan juga sangat penting, administrasi terutama seperti pembayaran sekolah, jangan sampai ada komplain dari konsumen (wali murid) kita tentang pembayaran yang tidak diakui, harus ada kejujuran pada semua civiatas akademik terlebih yang berhubungan dengan keuangan.

Konsumen itu ‘corong’ kita, tanpa koar-koar tanpa memasarkan kalau konsumen merasa puas maka sudah otomatis sekolah kita akan besar dengan sensirinya.

“Saya ikut mendoakan semoga SMAMITA menjadi sekolah unggul dan saya ikut bangga walaupun saya sudah tidak mengajar disini lagi,” pungkasnya. Amel