Wildan, Kemeja Putih

SMAMITA – Di usia 18 tahun dokter memastikan bahwa Wildan Tamami terkena leukimia. Sel kanker darah (leukemia) telah menggerogoti dan melemahkan seluruh sistem serta fungsi tubuhnya. Hingga kemudian ia kini menemukan titik balik hidup, yang membantunya lolos dari jerat leukimia. Bersyukur, saat ini kondisinya sudah berangsur pulih.

Berawal dari demam yang telah mendekam di badan sebelumnya. Meski suhunya hanya 37 derajat Celsius, tubuhnya terasa sangat lemas dan Wajah yang pucat.

Ibu Wildan menjelaskan kala itu ia selepas ikuti UNBK, dan sebagai saksi saat Pilpres. “Padahal, saat itu berselang beberapa hari setelah UNBK di sekolah dan ia usai menjadi saksi saat pilpres 17 April 2019 lalu,” kenang Ibu Wildan saat diwawancarai kontributor smamm1ta.sch.id

Saat diketahui Wildan demam tinggi, kedua orangtua memutuskan untuk membawa berobat ke dokter jaga terdekat di rumahnya kawasan kedungturi. Kemudian direkom untuk melakukan tes darah. Hasil tes darah membuat dokter itu memutuskan merujuknya ke RS Siti Khodijah Sepanjang. Namun, kemudian tim Dokter RS Siti Khodijah melihat adanya sel leukemia di tubuh Wildan dan merujuk ke RSUd Dr Soetomo Surabaya untuk mendapatkan perawatan yang lebih intens lagi.

“Selama satu bulan Wildan dirawat di RSUD Dr Soetomo untuk mendapatkan perawatan intensif. Pernah ia mengalami suhu badan mencapai 41 derajat celcius dan mengigau untuk melakukan adzan di dekat rumahnya,” Ujar Ibu Wildan dengan mata berkaca kaca ketika bercerita.

Wildan diketahui memang selalu aktif sebagai muadzin di masjid perumahan tempat ia tinggal.

Alhamdulillah, tepat 5 hari sebelum perayaan idul fitri, Allah memberikan karomah kepadanya dan ia diperbolehkan pulang untuk menjalani rawat jalan dirumah.

Dalam masa-masa sulit itu, Wildan dikelilingi orang-orang terdekat yang dengan penuh kasih sayang. Dukungan terbesar datang dari keluarga, tak lupa teman-teman serta bapak ibu guru karyawan SMA Muhammadiyah 1 Taman untuk selalu mendoakan kesembuhannya disela-sela Shalat berjamaah di sekolah.

Karena itu, perlahan Wildan kembali memupuk semangatnya untuk segera sembuh. Dan Hari itu, Minggu (23/6/2019) Keluarga mengundang teman sekelas dan Gurunya datang kerumah untuk silaturahim dan mengabarkan atas kondisinya yang sudah berangsur-angsur membaik.

Sekarang ia perlu cukup di RS seminggu sekali untuk cek kondisinya, dan menjaga pola makan. “Tidak boleh makanan jenis fast food dan daging dagingan. Harus banyak makan sayur dan buah,” ungkap ibunya.

Sesungguhnya, memang hanya Allah yang menyembuhkan. Dokter, RS dan siapapun hanya menjadi alat. Kalau Allah menentukan kita sembuh, berapapun uang kita, ada atau tidak tempat untuk kita, kita pasti disembuhkanNya. Kalau sakit berobatlah. Allah tidak bilang kita wajib sembuh, kita hanya wajib ikhtiar.

Ini bagian dari salah satu pelajaran Allah untuk kita, jadi jangan takut. Mau sembuh, mau terus sakit, bukan urusan kita. Yang penting ikhtiar, berobat. Urusan hasil itu mutlak hak Allah.

Tidak ada orang satu pun di dunia ini yang ingin sakit. Semua orang pasti ingin selalu diberi kesehatan oleh Allah Ta’ala. Tapi, takdir terkadang tak bisa kita hindari. Yah seperti itulah penyakit. Penyakit bisa menyerang siapa pun tanpa pandung bulu, tak pandang umur. Wahyu Murti