ETIKA BERDAGANG YANG HALAL SESUAI SYARIAH

0
62

 

Oleh : Kyai Nadjih Ihsan

Disampakan dalam pengembangan UMKM tgl 29 Juli 2019.

 

Bagaimana beretika ketika berdagang yang halal sesuai dengan Syariah itu, berikut ulasannya.

Agama Islam senantiasa mendorong pemeluknya untuk bekerja keras mencari rezeki, tidak santai santai setelah menunaikan ibadah mahdhoh melainkan segera bekerja mencari rezeki yang tersebar di muka bumi ini.

Seperti yang tertera dalam Al Quran surah Al Jumuah ayat ke 10.

Allah SWT berfirman:

فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلٰوةُ فَانْتَشِرُوا فِى الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Apabila sholat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi; carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung.
(QS. Al-Jumu’ah 62: Ayat 10)

Kemudian, bekerja keras. Maksudnya adalah langkah nyata yang dapat menghasilkan rezeki. Namun demikian bukan berarti betapapun kerasnya usaha yang dilakukan, harus selalu dalam bingkai syariah Islamiyah.

“Kerja keras yang dilakukan jika keluar dari syariah Islamiyah akan menjadikan rezeki yang di peroleh nya itu tidak membawa berkah,” ungkap Kyai Nadjih.

Ketiga, lanjutnya, Agama Islam tidak hanya mengatur aqidah, ibadah dan akhlaq, melainkan juga mengatur masalah mu’amalah.

“Aturan Islam tidak hanya Syahadat, sholat, puasa dan haji, akan tetapi juga mengatur bagaimana cara mencari harta dan sistim pembelanjaan nya,” kata alumni Kepala Smamita 18 tahun itu.

Kemudian, Ia juga menuturkan, berbisnislah dengan cara yang halal. Artinya bisnis dilakukan dalam lingkup barang dan jasa yang di perbolehkan untuk di perdagangkan menurut Islam.

Dengan kata lain, kata kyai, bisnis tidak dilakukan pada barang dan jasa yang di haramkan, misalnya narkoba, babi, prostitusi dll, yang di larang Agama Islam.

Allah SWT berfirman:

يٰٓأَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِى الْأَرْضِ حَلٰلًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِ  ۚ إِنَّهُۥ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ
Wahai manusia! Makanlah dari (makanan) yang halal dan baik yang terdapat di bumi dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagimu.
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 168)

 

Bukan sekedar hanya itu, Kyainadjih mengajak kita untuk berbisnis dengan menjauhkan unsur judi. Judi artinya untung untungan, dalam bisnis seharusnya barang dan jasa diatur dan di kelola dengan jelas.

“Bisnis yang mengandung unsur perjudian dilarang dalam Islam, karena bisa merusak tatanan ekonomi dan masyarakat,” terangnya.

Allah SWT berfirman:

يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوٓا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلٰمُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ الشَّيْطٰنِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya minuman keras, berjudi, (berkurban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah, adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah (perbuatan-perbuatan) itu agar kamu beruntung.
(QS. Al-Ma’idah 5: Ayat 90)

 

Berikutnya, Berbisnislah dengan prinsip kejujuran Kejujuran menjadi syarat utama yang sangat mendasar. Bisnis seperti ini lebih banyak menarik simpati calon pembeli, sebab teorinya tidak seorang yang mau di bohongi.

Mengacu pada kejujurannya Rasulullah dalam berbisnis, justru akan menghasilkan keuntungan dan keberkahan yang melimpah.

Tidak cukup hanya disitu, berbisnislah dengan menghindari sumpah palsu. Sumpah memang dapat melariskan dagangan tapi menghilangkan berkah.

Nabi Muhammad SWA, sendiri melarang banyak sumpah dalam bisnis, walaupun sumpahnya itu tidak palsu, orang yang banyak sumpah itu, termasuk tidak mengagungkan Alloh SWT.

Terahir, Berbisnislah dengan prinsip ta’awun. Ta’awun atau saling menolong antar penjual dan pembeli merupakan prinsip etika moral dalam bisnis.

“Dilihat dari keinginan masing-masing antara pembeli dan penjual, prinsip saling menolong menjadi unsur penting dalam bisnis. Penjual menginginkan uang dan pembeli mengharapkan barang dan jasa,” Pungkas Kyai Nadjih.

DAKWAH TAUHID: DAKWAH RASULULLAH