Peserta Munaqosah Hafidz Quran Smamita

SMAMITA – Syukur Alhamdulillah kegiatan Imtihan dan munaqosah Tahfidz SMA Muhammadiyah 1 Taman (SMAMITA) Sidoarjo telah berlangsung dengan baik. Kegiatan yang diselenggarakan pada tanggal 30-31 Januari 2020 dan 26 Februari 2020 ini tidak hanya diikuti oleh para siswa, tetapi juga oleh guru Tahfidz setempat. Ustadzah Ummu sebagai kepala pengajar baca tulis Al-Qur’an juga turut menyetorkan hafalan surah Al Baqarah kepada munaqis dari Tim Tajdid Center PWM Jawa Timur. Alhamdulillah hasil dari kegiatan ini cukup memuaskan.

Bagi saya ada nilai lebih dari pengajaran Tahfidz di sekolah ini bila dibandingkan dengan dengan sekolah-sekolah Muhammadiyah yang lain di lingkungan Muhammadiyah Jawa Timur. Pasalnya SMAMITA telah mencanangkan Global Insight sebagai salah satu pilar utama sekolah. Pencanangan ini ditindaklanjuti sedemikian sungguh-sungguh dengan menyelenggarakan program Internasional student exchange dari berbagai negara.

Per bulan Januari 2020 saja tidak kurang dari 45 kunjungan tamu internasional telah diterima oleh civitas academica SMAMITA. Baik itu tamu dari pelajar Eropa, Asia Tengah hingga Asia Timur. Melalui program ini secara resmi SMAMITA telah memasuki kancah kebudayaan global dengan segala derivasinya. Bekal infrastruktur sekolah yang berkaliber internasional memang sangat memungkinkan untuk penyelenggaraan program ini.

Di satu sisi program pertukaran pelajar internasional ini merupakan pengejawantahan dari anjuran Allah SWT di dalam Al Qur’an surah Al Hujurat ayat 13. Di dalam ayat tersebut Allah SWT menyatakan bahwa diciptakannya manusia dengan perbedaan suku bangsa dan bahasa adalah agar manusia saling mengenal kebudayaannya satu sama lain. Dengan demikian siapapun yang bisa mengambil pelajaran dan hikmah dari kehidupan bangsa lain maka akan memperoleh derajat kemuliaan, dan pada saat yang sama adalah sebuah tanda ketaqwaan di hadapan Allah SWT.

Tetapi di sisi lain, tidak bisa dipungkiri bahwa interaksi kebudayaan juga bermakna persaingan budaya (cultural race). Di mana satu ummat manusia akan menunjukkan sisi lebih dari kebudayaannya kepada ummat atau bangsa yang lain. Cultural race atau persaingan budaya merupakan fakta sosial yang terjadi dalam pergaulan yang lebih luas. Allah SWT juga mengingatkan kita agar hal ini disikapi dengan cara perlombaan dalam hal kebajikan. Sebagaimana yang telah Allah SWT firmankan di dalam surah Al Baqarah ayat 148.

Para pelajar asing yang datang ke sekolah ini tentu tidak hanya sekedar belajar kebudayaan ummat Islam di Indonesia. Tetapi pada saat yang sama juga hendak menunjukkan bahwa kebudayaannya jauh lebih unggul dari kebudayaan yang dimiliki oleh ummat Islam bahkan bangsa Indonesia secara umum.

Tentu saja hal ini sedikit banyaknya akan memunculkan sejenis cultural shock. Kesan bahwa orang asing lebih maju dan lebih beradab sedikit banyak pasti akan muncul di benak civitas academica SMAMITA. Pada titik cultural shock inilah yang penting untuk disadari dan diantisipasi. Pasalnya dalam bentuk yang paling ekstrim cultural shock tidak jarang bisa memunculkan cultural uprooted (ketercerabutan budaya) bagi siapa pun yang tidak memiliki fondasi pemahaman yang kuat. Cultural uprooted ini juga secara global merupakan masalah prinsipil yang dihadapi oleh ummat Islam dalam perjalanan sejarahnya ketika berhadapan dengan modernisme barat.

Munculnya asumsi-asumsi yang telah diyakini oleh sebagian besar generasi muda Islam bahwa barat lebih modern dan lebih maju adalah salah satu wujudnya. Pada titik yang paling ekstrim yang ini juga telah lama menggejala dalam lingkungan perguruan tinggi Islam, baik negeri maupun swasta khususnya di Indonesia, dengan munculnya asumsi bahwa Islam tidak selaras dengan kemajuan dan keberadaban.

Nauzubillah, tentu akibat ini bisa sangat fatal bila tidak ada langkah preventif yang kuat. Sebagaimana yang telah saya saksikan sendiri persoalan inilah yang melatarbelakangi lahirnya liberalisme di kalangan generasi muda Islam Indonesia.

Gedung Smamita Tower

Karena itu bagi saya program Tahfidz di SMAMITA ini merupakan program strategis jangka menengah dan panjang yang harus terus dirawat. Insyaallah dengan program ini civitas academica SMAMITA, khususnya para pelajarnya, akan memiliki fondasi yang kokoh baik lahir maupun batin. Pada program ini saya sampaikan apresiasi sebesar-besarnya kepada pihak SMAMITA yang telah memberikan porsi yang cukup besar bagi para siswanya yang ingin menghafal Al-Qur’an.

Tentu saja tidak cukup sampai di sini. Program Tahfidz ini haruslah dijadikan sebagai fondasi pengembangan Dirasatul Islamiyyah (Islamic studies) tahap lanjut. Program-program pembelajaran studi Islam yang lain yang sifatnya fundamental juga harus dibekalkan kepada para siswa agar bangunan kebudayaan Islamnya semakin kokoh.

Adapun program studi kedua yang saya pikir penting untuk dibekalkan adalah bahasa Arab. Dengan bahasa Arab ini generasi muda muslim akan menyadari akar intelektual dari keimanannya dengan baik. Sehingga tidak akan mudah goyah bila berhadapan dengan diskursus intelektual dari tradisi lain, khususnya dari tradisi modernisme sebagai sebuah falsafah pengetahuan. Ini juga yang diwasiatkan oleh Amirul Mukminin Umar bin Khattab kepada generasi muda muslim.

Ketiga yang juga sangat penting adalah pemahaman terhadap sejarah Islam, khususnya sejarah keemasan dunia Islam. Bahwa kemajuan yang dicapai oleh dunia hari ini saham terbesarnya adalah dari dunia Islam khususnya di era Abbasiyah. Dengan demikian memandang kemajuan kebudayaan lain tidak akan lebih dari buah hasil pengajaran para ulama Islam di masa lalu. Sehingga cultural shock dalam hal ini bisa diminimalisir bahkan dihindari.

Jika berbagai bekal itu betul-betul kuat tertanam dalam benak civitas academica SMAMITA maka saya yakin internasional cultural exchange yang sedang berlangsung di SMAMITA ini akan menjadi akulturasi budaya yang baik. Bahkan ini akan menjadi pilot project bukan hanya untuk lingkungan persyarikatan Muhammadiyah di Jawa Timur, tetapi juga untuk persyarikatan Muhammadiyah secara nasional bahkan untuk proses pendidikan nasional secara umum.

Sebagaimana yang pernah dipesankan oleh Syaikh Muhammad Abduh, “Al Islam ya’lu wa laa yu’la ‘alaih”, semoga bisa disuarakan lagi oleh SMAMITA dalam percaturan kebudayaan internasional. Semoga Kasih Sayang dan Keberkahan dari Allah SWT senantiasa menyertai keluarga besar SMAMITA.

Wallahu a’lam Bu as-showab

Hormat Kami πŸ˜ƒπŸ˜ƒπŸ˜ƒπŸ€²πŸ€²πŸ€²πŸ™πŸ™πŸ™

Ghulam Mubarok anggota tim Tajdid PWM Jawa Timur; Kepala Tpq Baiturrahman Krian.