Ika Prehantina, S.Pd. Guru Ekonomi Smamita

Relita dampak Covid-19 dirasakan di berbagai sektor perekonomian. Berikut penuturan Ika Prehantina, S.Pd., guru Ekonomi SMA Muhammadiyah 1 Taman – Sidoarjo (Smamita).

Berdasarkan relita yang pernah terjadi 20 tahun belakangan ini terlihat bahwa ada trend periodik setiap 5 tahunan terjadi ledakan wabah penyakit. SARS pada tahun 2000-an, flu burung pada 2004/2005, flu babi pada 2009/2010, ebola pada 2014/2015, dan saat ini Ccorona Virus Disease tahun 2019/2020. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah menetapkan status keadaan darurat Covid-19.

Wabah penyakit Covid 19 menjadi luar biasa tidak terlepas dari peran teknologi komunikasi. Sehingga persebaran informasi ini menimbulkan kepanikan dalam masyarakat. Dampaknya membuat perilaku masyarakat berubah yang salah satunya menimbulkan scarcity (kelangkaan). Sehingga dalam ekonomi terjadi masalah ketimpangan antara sisi permintaan dan penawaran.

Wabah covid 19 tidak hanya menjadi masalah kesehatan saja tetapi sudah menjadi masalah di berbagai bidang, khususnya masalah ekonomi. Ekonomi tidak dapat terlepas dalam kehidupan kita sehari-hari. Dengan adanya virus ini, salah satu dampak yang dapat dirasakan semua orang adalah kelangkaan. Ini terjadi pada beberapa barang seperti masker, vitamin C, hand sanitizer, cairan antiseptik, Alat Pelindung Diri (APD).

Adanya kelangkaan barang dan jasa timbul karena terbatasnya jumlah barang yang kita inginkan. Itu terjadi karena beberapa hal, diantaranya tingginya permintaan dari masyarakat, produksi berkurang karena kurangnya bahan baku impor, penimbunan barang, panic buying. Hal tersebut mengakibatkan harga barang mengalami kenaikan yang cukup drastis.

Untuk menghadapi kelangkaan barang, kita sebagai masing-masing individu atau keluarga dapat memproduksi sendiri selama ada bahan baku yang dapat menggantikan posisi barang tersebut.

International Monetary Fund (IMF) menyatakan saat ini ekonomi global mengalami krisis akibat pandemi virus corona. Rupiah turun terhadap dolar Amerika Serikat yang menembus 17 ribu, terjadi outflow yang mencapai ratusan triliun per bulan Maret, dan sektor riil yang terlihat surut.

Perekonomian Indonesia yang diprediksi turun signifikan pada 2020 seakan menjadi kenyataan. Indonesia tidak mengalami sendiri, bahkan perekonomian seluruh dunia juga menurun diangka 2%. Perekonomian Indonesia sangat bergantung pada penanganan pandemi covid-19.

Kebijakan pemerintah sangat menentukan untuk mengatasi covid-19. Pemerintah saat ini memberlakukan sosial distancing dan physical distancing (jaga jarak aman), pengajaran online dari rumah, work from home (bekerja dari rumah), penundaan dan pembatalan berbagai event pemerintah dan swasta merupakan kebijakan yang dilakukan pemerintah Indonesia untuk menekan penyebaran covid-19.

Namun di sisi lain, kebijakan pemerintah tersebut mengakibatkan kelesuan di bidang ekonomi. Jika hal tersebut terus berlanjut maka dapat menyebabkan daya serap tenaga kerja rendah sehingga meningkatkan pengangguran dan kemiskinan.

Sektor yang paling terpukul dengan adanya virus ini adalah pariwisata karena adanya larangan traveling dan sosial distancing. Dampaknya ke industri perhotelan, restoran, retail, transportasi dan lainnya. Sektor manufaktur juga terkena imbasnya karena terhambatnya suplai bahan baku impor dari beberapa negara lain dan keterlambatan bahan baku sehingga berdampak pada kenaikan harga dan inflasi.

Oleh karena itu, pemerintah juga menetapkan kebijakan fiskal dan moneter. Kebijakan fiskal yang diterapkan yaitu refocusing dan relokasi anggaran sedangkan moneter harus selaras dengan kebijakan fiskal yakni otoritas di bidang moneter harus dapat menjaga nilai tukar rupiah, mengendalikan inflasi serta memberikan stimulus moneter untuk dunia usaha, seperti adanya relaksasi pemberian kredit perbankan dan mengintensifkan penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR).

Kebijakan yang diterapkan pemerintah tersebut merupakan upaya dalam membangun ekonomi Indonesia di tengah wabah ini. Agar sejalan dan mensukseskan kebijakan pemerintah, kita harus disiplin taat dan patuh pada kebijakan tersebut sehingga virus corona segera reda dan perekonomian Indonesia segera pulih kembali.

Selain itu, harus tetap semangat dan selalu berinovasi karena dalam keadaan sesulit apapun pasti akan ada peluang-peluang baru yang dapat membantu memulihkan ekonomi masyarakat.