Tengah: Rizkiyani, S.Pd., guru Sejarah Indonesia Smamita

Di Indonesia, epidemi penyakit menular bukan hanya Covid-19 saja. Berikut penuturan Riskiyani, S.Pd., guru Sejarah SMA Muhammadiyah 1 Taman- Sidoarjo (Smamita) terkait itu dalam kacamata Sejarah Indonesia.

Beberapa minggu terakhir media gencar memberitakan perkembangan wabah Corona yang makin hari makin luas wilayah persebaran dan makin banyak korban meninggal karenanya. Diawali di wilayah Wuhan di China sampai akhirnya saat ini menjadi pandemik di Indonesia hingga melumpuhkan hampir semua kegiatan sosial ekonomi bahkan politik. Tapi apakah wabah penyakit seperti ini yang pertama kali terjadi di Indonesia ??? Jawabannya adalah Tidak.

Jauh sebelum Indonesia merdeka pernah terjadi pagebluk (wabah penyakit berbahaya) serupa.
BlackDeath atau Sampar atau Pes, penyakit yang penyakit menular pada manusia yang disebabkan oleh enterobakteria Yersinia pestis ini pertama kali mewabah di kawasan Benua Eropa sekitar tahun 1400an, diwilayah kota Marseille, Prancis.

Orang-orang Eropa menamainya BlackDeath karena mengakibatkan beberapa anggota tubuh menghitam sebelum akhirnya penderita mati karenya.Akibat bawah ini Perancis baru bisa pulih 25 tahun kemudian akibat banyaknya penduduk yang tewas karena wabah.

Di Indonesia sendiri wabah pes atau sampar ini terjadi pada 1910, wabah pes menyerang Malang, Jawa Timur. Tak butuh lama wabah ini untuk menyebar ke daerah-daerah lain. Semarang dan Yogyakarta jadi korban berikutnya. Akibatnya, dari 1910-1939, pes memakan 39.254 korban jiwa di Jawa Timur, 76.354 di Jawa Tengah, dan 4.535 di Yogyakarta. Disaat yang hampir bersamaan di Indonesia juga didapati epidemi Kolera. Jika Pes atau sampar banyak menjangkiti warga di Jawa Timur dan Jawa Tengah, kolera mengawalinya dikawasan Batavia (Jakarta, sekarang).

Dalam Ensiklopedia Jakarta: Volume 2, tahun 1910 dan 1911 tercatat sebagai tahun kolera. Selama jangka waktu itu, rata-rata tiap 1000 orang bumiputra yang tinggal di hulu kota meninggal sedangkan di kota hilir (Batavia Lama) jumlahnya 148 orang. Hingga mendekati akhir, total warga Batavia yang meninggal diperkirakan sebanyak 6000 orang.
Wabah yang ketiga adalah Flu Spanyol. Di Hindi-Belanda (kini Indonesia).

Pemerintah Hindia Belanda mencatat, virus ini pertamakali dibawa oleh penumpang kapal dari Malaysia dan Singapura dan menyebar lewat Sumatera Utara. Ketika virus itu mulai menyerang kota-kota besar di Jawa pada Juli 1918, pemerintah dan penduduk tidak memperhatikan. Mereka tidak sadar virus tersebut akan menjalar dengan cepat dan mengamuk dengan sangat ganas. Tidak ada catatan resmi jumlah korban Flu Sapanyol di Hindia-Belanda pada saat itu. Namun diyakini memakan korban dua kali lipat dari korban Pes maupun kolera karena Flu Spanyol menyerang hampir diseluruh wilayah Hindia-Belanda saat itu.

Dari 3 epidemi penyakit menular yang pernah terjadi di Indonesia, banyaknya jumlah korban sebagian besar diyakini karena kurang tanggapnya pemerintah pada saat itu. Lalu bagaimana dengan wabah Covid-19 saat ini ? Kita berharap akan segera berakhir Covid-19 dan kembali bisa beraktifitas normal. Belajar bersama di Smamita.