Tuesday, November 24, 2020
Home Kabar Agama Ekologi, di rumah aja, dan Ramadhan

Ekologi, di rumah aja, dan Ramadhan

Wabah Corona (COVID-19) telah mengubah wajah dunia. Sejak saat itu menjadi isu serius ‘pembunuh’ umat manusia, sehingga semua negara bertindak untuk mengamankan keselamatan warganegaranya. Beberapa negara sedang melakukan aktivitas ibadah Ramadhan, termasuk Indonesia.

Istia Hajar A., S.Si, guru Bahasa Inggris SMA Muhammadiyah 1 Taman Sidoarjo (Smamita), menuturkan bagaimana ekologi saat Covid-19 mewabah.

Ramadhan kali ini mungkin akan terasa berbeda. Apakah terasa lebih nyaman atau sedih bergantung dari sudut pandang mereka yang menjalankan ibadah. Terkait dengan Surat Edaran Menteri Agama Nomor: SE.6 Tahun 2020 Tentang Panduan Ibadah Ramadhan dan Idul Fitri 1 Syawal 1441 H di Tengah Pandemi Wabah Covid-19.

Dalam SE tersebut banyak dibatasi kegiatan ibadah selama Ramadhan seperti sholat taraweh, buka puasa bersama, iktikaf, sahur on the road, dan lain-lain. Surat tersebut sebagai respon dari kondisi pandemi covid-19 yang tak kunjung berakhir.

Satu sisi, kondisi pandemi covid-19 ini memaksa kita harus stay at home atau work from home yang memungkinkan seseorang bisa melaksanakan ibadah lebih.

Ramadhan di tengah pandemi Covid-19 menjadikan frekuensi bersama keluarga lebih tinggi. Kemungkinan hal yang sangat positif dari puasa kali adalah berbuka dan sahur bersama keluarga dengan frekuensi lebih tinggi dari puasa Ramadhan sebelumnya.

Tahun ini rasanya itu semua tidak akan terjadi karena anjuran social distancing memaksa kita untuk berkumpul dengan keluarga. Sungguh prime time yang sangat bagus. Nah, seanjutnya frekuensi membaca Al Quran lebih tinggi.

Kondisi pandemi covid-19 ini memaksa berbagai agenda ditunda bahkan dihapus akhirnya membuat kita lebih banyak di rumah. Hal-hal positif yang bisa dilakukan tentu dengan banyak membaca Al Quran.

Aktivitas ini sungguh berbeda jika dilakukan di bulan-bulan biasa. Selain Ramadhan adalah bulan turunnya Al Quran, pelipatan amal ibadah menjadi motivasi tersendiri untuk banyak membaca Al Quran. Begitupun frekuensi sholat berjamaah dengan keluarga semakin meningkat. Sholat berjamaah dengan keluarga mungkin hanya bisa dilakukan waktu sholat subuh. Tapi selama Ramadhan dengan kondisi pembatasan aktivitas social ini kemungkinan frekuensi itu bertambah. Taraweh yang biasa kita lakukan di Masjid kemungkinan akan dilakukan di rumah dengan alasan menghindari penyebaran virus corona ini.

Mari belajar dari wabah corona ini yang menjadi perhatian global, rasa keprihatian atas pandemi ini pasti ada berdampak terhadap kondisi perekonomian kita, maka rasa sedih yang mendalam itu kita bayar dengan mendekatkan diri kepada Allah SWT bersama-sama keluarga kita di rumah.

Seiring berjalannya kebijakan di rumah aja, secara tidak terduga memberikan dampak yang siqnifikan dalam pengurangan polusi udara di Bumi. Secara nyata bumi kembali bernapas dengan berkurangnya aktivitas manusia. Hal ini dapat kita pahami bahwasanya, jika kita mampu menjaga Bumi dan tidak serakah, maka alam pun akan memberikan hasil yang baik, seperti udara segar misalnya. Kita bisa mulai menerapkan gaya hidup ramah lingkungan.

Saat ini, ketika banyak melakukan aktivitas di rumah, maka bisa dimanfaatkan untuk belajar memilah sampah sendiri di rumah dan membuat kompos. Mungkin saja, setelah pandemi berakhir, muncul kesadaran pada setiap individu untuk lebih menjaga alam. Mari bersama-sama merefleksi diri di situasi seperti ini dan memikirkan apa yang bisa kita lakukan untuk membantu sesama akibta kondisi perekonomian dan tetap menjaga kelestarian alam setelah wabah ini berakhir. Dalam surat Ar Ruum 41,

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).

Sangat jelas bahwa manusialah yang melakukan kerusakan di muka bumi ini. Kerusakan ini semakin massif dan terakumulasi jika manusia tidak bisa menjaga lingkungan, padahal manusia diberi hak penuh (kuasa) dalam mengelola semesta alam, tapi jika salah olah, maka alam akan balik merusak manusia, salah satunya kasus COVID-19.

Kehidupan yang mempunyai makna sebenarnya merupakan kehidupan yang memiliki nilai kemanfaatan dalam proses berlangsungnya hidup di alam jagad raya ini. Unsur yang terpenting dalam mewujudkan hidup yang bermakna terletak pada seluruh makhluk hidup yang memiliki fungsi kegunaan, baik atas dirinya maupun sesama makhluk hidup serta alam sekitarnya sebagai tempat makhluk hidup berada.

Jadikan Ramadhanmu di rumah untuk memulihkan ekologi.

- Advertisment -

Most Popular

Ajarkan Makna Berkurban, SMA Muhammadiyah Gelar Penyembelihan Hewan

Penyembelihan hewan kurban sudah menjadi rutinitas umat islam pada hari Raya Idul Adha, tak terkecuali SMA Muhammadiyah 1 Taman (Smamita). Jumat, 31 Juli...

Smamita Ciptakan Generasi Penghafal Al Quran Melalui Kelas Tahfidz

Dengan penuh ucapan rasa syukur, SMA Muhammadiyah 1 Taman (Smamita) Sidoarjo, terus mengembangkan potensi yang ada baik inovasi maupun kreatifitas. Tahun Pelajaran...

Milad 57 Perguruan Seni Beladiri Tapak Suci Putera Muhammadiyah

Milad ke 57 Perguruan Seni Beladiri Tapak Suci Putera Muhammadiyah Oleh M. Muad Sahlan Perguruan Seni...

Asal Mula Idul Adha

Oleh : Ira Susantie, S.Pd.I Setiap tahun umat muslim memperingati hari raya Idul Adha. Meskipun saat ini wabah corona...