Kepedulian Alumni MIA 1 SMAM1TA 2018 dalam Sepaket Sembako untuk Masyarakat Terdampak.

Jika sebenarnya kita bisa bergerak dan membantu, mengapa kita memilih berdiam saja? Itu yang terlintas di kepala ketika menengok situasi sekitar yang kacau dan memprihatinkan, khususnya ketika wabah Covid-19 terjadi dan berdampak pada orang-orang termarginalkan.

Sejak lama, Alumni Mia 1 SMAM1TA 2018 (Vamos One) sering melakukan kegiatan amal, terlebih ketika bulan Ramadhan. Vamos One setiap bulan Ramadhan selalu mengadakan kegiatan bagi-bagi takjil. Tetapi pada masa pembatasan sosial seperti sekarang, kami menyetop kegiatan tersebut. Kami alihkan ke pemberian bantuan kepada sebagian warga yang terpengaruh secara signifikan dari menurunnya aktivitas dan mobilitas masyarakat sehari-hari selama pandemi.

Setelah berdiskusi dengan teman-teman Vamos One, kami sepakat untuk melakukan kegiatan baksos bagi-bagi sembako untuk masyarakat terdampak, dan uang urunan Alumni MIA 1 SMAM1TA 2018 (Vamos One) yang rencananya untuk bagi-bagi takjil dialihkan ke kegiatan bagi-bagi sembako untuk masyarakat terdampak dan juga Vamos One membuka donasi bagi orang lain yang ingin berpartisipasi dalam kegiatan ini.

Setelah membuka donasi dari tanggal 12 April – 2 Mei 2020. Alhamdulillah, hingga 2 Mei 2020 dana yang telah terkumpul sebanyak Rp. 2.222.000. Kemudian dana tersebut diwujudkan dalam bentuk 25 paket sembako yang masing-masing berisi beras 5kg, minyak goreng 900ml, dan mie goreng 5 bungkus. Paket tersebut telah kami distribusikan secara door to door pada hari Senin, 4 Mei 2020. Selain itu kami juga membagikan 100 paket nasi kotak untuk berbuka puasa yang kami bagikan kepada para tukang becak, pengemis, dan ojol di sekitar jalan Ketegan.

Perhatian kami untuk aksi kepedulian ini terarah pada beberapa pihak: Kuli bangunan, tukang becak, buruh kasar, dan pemulung di kecamatan Taman dan sekitarnya. Terjadinya wabah COVID-19 ini mencekik mereka, apalagi bagi buruh yang harus rela gajinya dipotong atau bahkan sampai dirumahkan.

Sementara bagi tukang becak, pendapatan mereka jauh lebih sedikit dari biasanya sehingga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja berat.

Pemulung pun juga terdampak. Saya membaca berita di media sosial, mereka bingung mau mencari uang dari mana karena banyak pengepul yang tutup sehingga barang yang mereka kumpulkan belum terjual. 

Ketika kami menyalurkan paket sembako kepada orang-orang itu, kutangkap rasa syukur dari mereka. Saya turut merasa senang bercampur haru di hati. Seberapapun yang kita beri ternyata sangat berpengaruh bagi mereka. Bingkisan sembako yang tak seberapa namun cukup berarti ini sedikit mampu membuat keluarga mereka tersenyum setidaknya untuk 3 hari kedepan.