Begini Pak Husnul Khitam itu?

Berikut adalah penuturan tentang pak Husnul Khitam (alm), Kepala SMA Muhammadiyah 1 Taman Sidoarjo (Smamita) periode 2002-2010, oleh Kyai H. Nadjih Ihsan.

Bismillahirrohmanirrohim

Alhamdulillah, Sholatuhu wasalamuhu rosulillah, waala alihi washohbihi wamauwwalah.

Saya akan memberikan keterangan apa yang saya ketahui tentang sahabat kita, saudara kita, pak guru kita, pak Husnul Khitam, yang wafat pada hari ini hari jumat tanggal 13 Syawal 1441 Hijriyah.

Yang saya ketahui pertama adalah beliau ini putra seorang Kyai besar di Sepanjang, namanya pak Kyai Haji Hamim Syahid, beliau Hafiz Quran hafal Al Quran pak Kyai Syahid itu, dan pak Khusnul ini salah satu dari putranya.

Pendidikannya adalah di Gontor Ponorogo lulus kemudian kuliah di IAIN Fakultas Adab, sekitar tahun 1974/1975.

Tapi pertemuannya dengan saya itu di Sepanjang tahun 1980. 1 Januari tahun 1980, saya mengajar di SMP Muhammadiyah, waktu itu pak Khusnul di SMA Muhammadiyah. Tapi sebelum tahun 1980 itu pak Khusnul pernah mengajar di SMP Al Islam, yang sekarang SMP Al Islam itu pindah di Ketegan.

Beliau mengajarkan agama, terutama Bahasa Arab. Kemudian tahun 1983 itu lebih akrab sama saya, karena saya pindah ke SMA (Smamita) ketemu dengan Pak Khusnul itu. Saat itu yang jadi wakil kepala sekolahnya pak Khusnul, kepala sekolahnya di SMA Muhammadiyah itu pak Gatot, tahun 1981, 1982, 1983 itu. Pak Khusnul tidak bisa melanjutkan, karena pak Khusnul nyambi ada bisnis begitu, terus saya mewakili pak Gatot sebagai kepala sekolah (Smamita) tahun 1984 itu.

Tapi kemudian tahun 1984 itu ketika saya jadi wakil kepala sekolah, kemudian saya diangkat sebagai kepala sekolah, Pak Khusnul ini sebagai wakil kepala sekolah. Lama sekali jadi wakil kepala sekolah di SMA Muhammadiyah 1 Sepanjang itu, mulai tahun 1984 ketika saya jadi kepala sekolah itu sampai 2002. Sehingga saat itu ada 3 orang ya motori di Smamita itu. Saya, pak Husnul Khitam, dan bapak Abdur Rochim. Urusan Ebtanas, sarana prasarana, urusan kurikulum, itu bisa ditekel tiga orang itu, plus pak Soleh berikutnya, almarhum, guru saya juga itu.

#Humas Smamita