Asal Mula Idul Adha

Oleh : Ira Susantie, S.Pd.I

Setiap tahun umat muslim memperingati hari raya Idul Adha. Meskipun saat ini wabah corona belum juga musnah, namun tak melemahkan semangat untuk memuliakan bulan Dzulhijjah. Kalimat takbirpun tetap menggema menghiasi lisan umat Islam. Karena di bulan haji  ini ada peristiwa besar yang sudah berabad-abad dijalani penganut agama tauhid di muka bumi ini. Kisah penyembelihan Nabi Ismail As yang dilakukan Nabi Ibrahim As memiliki hikmah yang luar biasa.

 Bagaimana tidak seorang Nabi yang telah lama menantikan kehadiran buah hati sampai usia lanjut baru diberi. Ketika Ismail lahir, bayi kecil mungil itu menjadi penyejuk hati keluarga Nabi Ibrahim. Namun tidak lama Allah  menyuruhnya untuk meletakkan anak dan istrinya yang benama Hajar di sebuah padang pasir di dekat ka’bah yang tak berpenghuni, tak ada tanaman untuk berteduh, tak ada air untuk melepas dahaga. Sedangkan beliau langsung kembali pulang ke Palestina. Sekitar 7 tahun Nabi Kholilulloh itu baru menemui anak dan istrinya di Mekkah Al Mukarromah. Rasa bahagia melepas rindu saat bercanda dan bermain dengan anaknya membuatnya terlelap hingga bermimpi disuruh Allah menyembelih putra semata wayangnya. Sungguh ini perintah yang berat tetapi beliau berusaha menjalankannya. Sebelum menyembelih putranya beliau menyampaikan maksud hatinya kepada sang buah hati.

يَبُنَيَّ إِنِّى أَرَى فِى المَنَامِ أَنِّى أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى

Wahai anak kesayanganku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu.

Jika ditinjau dari bahasa Arab. Kata yabunayya adalah panggilan sebagai ungkapan  kasih sayang. Beliau tidak memanggil dengan yaibnii ( anak laki-lakiku) tetapi yabunayya yang memiliki arti mendalam. Kasih sayang ayah bisa ditunjukkan dari panggilan, gaya bicara dan sikap. Inilah yang menjadikan ikatan batin anak dan orang tua sangat dekat sehingga anakpun menjadi hormat dan patuh. Dan jawaban yang diberikan Ismail kecilpun sangat mengagumkan. Hal ini diabadikan didalam Alqur’an Surat Ash Shaffat ayat 102

قَالَ يَأَبَتِ افْعَلْ مَاتُؤْمَرُ سَتَجِدُنِى إِنْ  شَأَللهُ مِنَ الصَّابِرِيْنَ

Dia berkata: Wahai ayahku lakukan apa yang diperintahkan Alloh kepadamu. niscaya engkau akan melihatku sebagai orang yang sabar.

Sikap beliau ketika menyampaikan maksud kepada anaknya adalah hal terpuji, beliau minta izin terlebih dahulu, mengajak musyawarah, mengajarkan anak berpikir dewasa dan cerdas. Sungguh ini sikap menghargai hak anak. Beliau juga menanamkan kuat pendidikan tauhid untuk menjadikan Allah sebagai Tuhan dan tidak mati kecuali dalam keadaan muslim

Dan ketika leher Ismail hendak disembelih, Allah menggantinya dengan seekor kambing. Dan Ismail dikembalikan Alloh kepada bapaknya. Sungguh Allah memberi ganti yang lebih baik bagi dua insan yang ikhlas ini. Pelajaran berharga bagi umat muslim setelah mengamalkan ibadah fisik seperti sholat,dzikir dan puasa. Maka sepatutnya mendekatkan diri dengan berkurban mengeluarkan harta yang dicintai sebagai ungkapan rasa syukur.