Eka Chandra, S.Kep Dokter Muda Universitas Airlangga Surabaya

SMAMITA – Covid-19 memang ada diantara kita semua, hal itu kita ketahui sejak Desember 2019 lalu. Dan sampai saat ini masih ada. Bagaimana dengan kondisi saat ini. Melalui peta Johns Hopkins University yang dibuka pada Agustus 2020. Secara kasus global, jumlah kasus Covid-19 di dunia adalah 96.938.729 kasus yang sudah terkonfirmasi. Dengan total kasus kematian 700.000 jiwa. Dan data pada hari Kamis (20/1/2021) terdapat 2.077.005 kematian.

Untuk itu, kita harus tetap berikhtiar dalam pencegahan Covid-19 yang masih belum meredah hingga saat ini. Hal itu disampaikan Eka Candra SKep., dalam webinar Modul Covid Bakti Negeri Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Jumat (21/1/2021).

Dari peta yang ditunjukkan itu, negara digdaya seperti Amerika Serikat, masih mendominasi angka penyebaran Covid-19 di dunia. “Padahal mereka negara super power, nuklir punya, ekonomi yang mendunia. Tapi nyatanya mereka juga kena Corona,” terang pria yang akrab dipanggil mas Eka.

Lebih lanjut, ia menguraikan bahwa, corona ini tidak pandang bulu. Siapa saja bisa kena, apapun rasnya, bagaimanapun digdayanya negara. Selama tidak menerapkan protokol kesehatan, mereka juga pasti kena.

“Seketat pengamanan Presiden Donald Trump seperti itu, presiden Amerika Serikat itu juga kena Covid-19,” urainya.

Lah, bagaimana dengan masyarakat yang tidak menerapkan protokol kesehatan dengan baik. Eka menjelaskan, dalam Al-Quran Surah Al Zalzalah ayat 7 disebutkan, yang artinya “Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzahrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.”

“Seumpama, kita sudah berbuat maksimal dalam pencegahan Covid-19 ini, kita sudah vaksin, kita sudah menerapkan Protokol kesehatan secara ketat dan maksimal, tapi kita masih tetap kena Covid. Maka, kita tetap harus berikhtiar atas apa yang Allah Ta’ala tentukan,” terangnya.

Misalnya, jika kita atau keluarga yang sedang sakit. Kita harus tetap berikhtiar bahwa Allah Ta’ala lah yang menyembuhkan. Bukan dokter yang memberi kesembuhan. Mungkin saja, perantaranya adalah dokter atas kesembuhan kita, tapi semua itu atas Allah Ta’ala.

Mahasiswa Fakultas Kedokteran yang tengah menempuh pendidikan dokter muda itu juga menambahkan, kegiatan disiplin menjalankan protokoler kesehatan wajib terus dilakukan guna menyelamatkan hidup sendiri dan orang lain.

“Ayo, kita bersama menerapkan protokol kesehatan bagian dari ikhtiar kita kepada Allah Ta’ala,” pesannya. Emil/Humas