Siswa smamita bersama mahasiswa untag saat memandu acara webinar menurunkan agresivitas verbal

SMAMITA menggelar pelatihan menurunkan agresivitas verbal melalui regulasi emosi untuk kelas X pada Senin (19/4/2021) yang dilaksanakan melalui via zoom.

Acara ini dibawakan oleh Miqdah Mumtazah, M. Hilmy Khoiri, Veren Wendy Warella yang merupakan Mahasiswa Magister Psikologi dari UNTAG, dan salah seorang siswi SMAMITA yaitu Bunga Okta (XI IPA 5).

Tujuan diadakannya kegiatan ini, diharapkan agar siswa-siswi dapat mengontrol emosi yang dimiliki dengan meregulasi emosinya.Terdapat dua bab yang disampaikan dalam pelatihan.

Materi pertama, mengenai agresivitas verbal yang dibawakan oleh Veren Wendy Warella.  “Apa itu agresivitas verbal?” tanya Veren.

Menurut Veren  agresivitas verbal adalah perilaku/tindakan yang dilakukan dengan tujuan menyakiti, mengancam, serta membahayakan individu, kelompok, ataupun objek yang menjadi sasaran perilaku tersebut secara verbal melalui kata-kata. Seperti halnya mengejek, menyindir, menghina, menertawakan, dan berkata kotor. “Agresivitas verbal dapat disebabkan oleh hal-hal seperti: frustasi-agresi, neo-asosianisme kognitif, stress, deindividuasi, pengalihan rangsangan proses kognitif, tindakan koersif (mengontrol perilaku orang lain), dan kekuasan” ungkap Veren

Materi kedua, mengenai regulasi emosi yang dibawakan oleh M. Hilmy Khoiri.  Menurut Hilmy regulasi emosi adalah proses pengendalian emosi yang dilakukan secara sadar maupun tidak sadar serta mengekspresikan emosi tersebut secara otomatis atau dikendalikan. Hal ini dilakukan tak lain untuk mengatur emosi, menyadari emosi, dan menguasai tekanan.

Berikut beberapa tahapan untuk meregulasi emosi

1. Kita harus tahu situasi apa yang ingin kita perbaiki;

2. Mengalihkan pikiran dengan memikirkan hal lain;

3. Mencoba memfokuskan kembali, dengan pengalihan pikiran tersebut;

4. Saat masih kesulitan, cari alternatif lain terkait pikiran positif; dan

5. Saat emosi tak tertahankan, relaksasikan diri.

Bunga Okta, salah satu siswi Smamita bertanya, “Agresivitas verbal kan terjadi tanpa kita sadari. Bagaimana cara kita mengetahui jika kita melakukan agresivitas verbal?” tanyanya.

“Caranya, setiap malam merenung dan sering merefleksi diri. Jika masih melakukan hal negatif, maka coba untuk mengubahnya,” terang Miqdah Mumtazah.

Lain halnya yang diungkapkanHilmy. Menurut Hilmy mungkin lebih ke ekspresinya. Biasanya, orang yang tersinggung itu menunjukkan ekspresi yang berbeda. “Kemudian, lihat dari mata. Lalu, kalau dia tiba-tiba terdiam, itu pasti tersinggung. Solusinya, kita harus minta maaf. Dari kita minta maaf, orang akan merasa dihargai,” kata M. Hilmy Khoiri.

Sementara itu menurut Veren Kalau ada orang yang tersinggung dengan ucapan kita, kita harus merefleksikan diri dan merenung. “Oh iya, tadi aku udah menyakiti perasaan dia lalu kita harus berani untuk menyapa dia dahulu. Buat dia senyaman mungkin agar tidak terkesan ada maunya, lalu bicara dengan heart to heart,” tambah Veren Wendy Warella.

Penulis : Khansa Khayyirah Hasna (X IPA 2)