
Muhammad Syamsu Alam Darajat SHI SH MA mendampingi siswa Smamita dalam kegiatan pengamatan fenomena gerhana bulan di rooftop lantai 8. (Satrio)
Fenomena gerhana bulan kembali menjadi momentum refleksi keimanan bagi umat Islam. Peristiwa langit ini tidak hanya menghadirkan keindahan visual, tetapi juga mengajak manusia untuk merenungi kebesaran dan kekuasaan Allah Swt. atas keteraturan alam semesta, Selasa (3/3/2026).
Hal tersebut disampaikan oleh Ustadz Ahmad Syihabuddin SSos Al Hafidz selaku khatib dan imam salat khusuf gerhana bulan yang dilaksanakan di Masjid Manarul Ilmi SMA Muhammadiyah 1 Taman (Smamita).
“Dalam pandangan Islam, gerhana bukanlah pertanda kematian, kelahiran, ataupun bencana tertentu. Gerhana adalah tanda kekuasaan Allah yang mengajak manusia untuk memperbanyak zikir, doa, serta refleksi keimanan,” jelasnya dalam tausiyah.
Dia menekankan bahwa pemahaman tentang gerhana telah dikenal sejak masa Rasulullah Muhammad Saw. Rasulullah secara tegas meluruskan keyakinan masyarakat yang keliru saat terjadi gerhana pada zamannya.
Secara historis, pada tahun wafatnya putra Rasulullah, Ibrahim, terjadi gerhana matahari. Kala itu, sebagian masyarakat mengira gerhana tersebut berkaitan dengan wafatnya Ibrahim. Namun, Rasulullah Saw. menegaskan bahwa matahari dan bulan tidak mengalami gerhana karena kematian atau kelahiran seseorang, melainkan sebagai tanda-tanda kebesaran Allah Swt.
Penegasan tersebut diriwayatkan dalam hadis sahih yang tercantum dalam Sahih Bukhari dan Sahih Muslim, yang menjadi rujukan utama umat Islam hingga kini.
Dalam Al-Qur’an, peredaran matahari dan bulan juga disebut sebagai bagian dari tanda kekuasaan Allah atas alam semesta. Hal ini tersirat dalam Surah Yunus ayat 5 dan Surah Ar-Rahman ayat 5 yang menegaskan bahwa seluruh fenomena langit berjalan dalam keteraturan dan keseimbangan yang sempurna.
Sejak peristiwa gerhana di masa Rasulullah, Islam mensyariatkan pelaksanaan salat gerhana (salat khusuf) ketika terjadi gerhana bulan. Ibadah ini menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah melalui doa, zikir, dan perenungan, bukan sebagai respons terhadap mitos atau ramalan tertentu.
Lebih dari itu, fenomena langit menyimpan banyak kebermanfaatan bagi seluruh makhluk di bumi. Matahari menjadi sumber utama kehidupan dengan sinarnya yang memberikan cahaya dan kehangatan, menggerakkan proses fotosintesis, serta menjaga kestabilan iklim dan cuaca.
Sementara itu, bulan memiliki peran penting dalam menjaga harmoni alam melalui pengaruh gravitasinya yang menyebabkan pasang surut air laut. Fenomena ini sangat bermanfaat bagi ekosistem laut, aktivitas nelayan, serta siklus kehidupan makhluk laut.
“Selain itu, peredaran bulan juga menjadi dasar perhitungan waktu dan kalender, khususnya dalam kajian ilmu falakiyah,” paparnya.
Keselarasan antara matahari, bulan, dan benda-benda langit lainnya menunjukkan bahwa alam semesta diciptakan dengan penuh hikmah dan tujuan. Fenomena langit bukan sekadar keindahan visual, tetapi juga sarana pembelajaran spiritual dan ilmiah yang mengajak manusia untuk semakin mengenal, mengagumi, serta mensyukuri kebesaran Allah Swt.
Fenomena gerhana bulan ini juga dimaknai sebagai sarana edukasi spiritual bagi para siswa Smamita bersama bapak dan ibu guru. Kegiatan pengamatan dan refleksi keimanan tersebut dilaksanakan di rooftop lantai 8 Smamita dan juga didampingi oleh Muhammad Syamsu Alam Darajat SHI SH MA dosen Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang.
Melalui kegiatan ini, siswa tidak hanya diajak memahami fenomena astronomi, tetapi juga menumbuhkan kesadaran spiritual akan keagungan dan kebesaran Allah Swt. dalam setiap ciptaan-Nya.
Penulis Billa Jurnalistik Smamita
