
Ketua Dewan Profesor ITS Prof. Dr. Ir. Imam Robandi, M.T sedang memberikan Orasi ilmiah dalam kegiatan Extending The Future Smamita 2026. Foto: Nashiiruddin
Orasi ilmiah Ketua Dewan Profesor Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Prof. Dr. Ir. Imam Robandi, M.T., menjadi salah satu momen paling inspiratif dalam rangkaian Extending The Future Smamita 2026. Kegiatan tersebut digelar bersamaan dengan purnawiyata siswa kelas XII SMA Muhammadiyah 1 Taman (Smamita) di Gedung Graha Adi Balas, Klumprik, Surabaya, Ahad (14/6/2026).
Di hadapan ratusan siswa, orang tua, dan guru, Prof. Imam Robandi menegaskan pentingnya karakter lulusan Muhammadiyah yang unggul dalam tiga pilar utama, yakni ilmu, iman, dan bahasa. Menurutnya, keunggulan akademik harus berjalan seiring dengan penguatan nilai keimanan sebagai kompas moral dalam menghadapi dinamika zaman.
“Lulusan Muhammadiyah tidak cukup hanya pintar secara intelektual. Mereka harus memiliki iman yang kokoh agar mampu menjaga integritas dan memberi manfaat di mana pun berada,” tuturnya dengan penuh motivasi.
Guru Besar ITS itu menekankan bahwa ukuran keberhasilan lulusan sekolah Muhammadiyah tidak hanya ditentukan oleh prestasi akademik, tetapi juga kualitas iman, karakter, dan keterampilan berbahasa. Ia mengaku bangga ketika siswa mampu membaca Al-Qur’an dengan baik, aktif memakmurkan masjid, hingga kelak menjadi imam di tengah masyarakat.
“Ketika kalian pulang ke rumah lalu menjadi imam salat, itu sudah menjadi kebanggaan. Apalagi saat lulus dari perguruan tinggi negeri dan berdiri di mimbar sebagai imam, itulah identitas anak-anak Muhammadiyah,” ujarnya di hadapan siswa kelas XII.
Lebih jauh, Prof. Imam mendorong siswa untuk aktif dalam pengelolaan masjid sebagai bentuk pengabdian nyata. Ia mencontohkan bahwa takmir dan aktivis masjid di lingkungan ITS dan PTN-PTN di tanah air berasal dari lulusan sekolah Muhammadiyah.
“Silakan aktif di masjid, bahkan menjadi takmir. Itu bagian dari kontribusi nyata,” pesannya.
Dalam orasinya, ia juga menekankan pentingnya penguasaan bahasa sebagai pembeda lulusan Muhammadiyah. Menurutnya, siswa perlu memahami bahasa Jawa, unggul berbahasa Inggris, serta mahir berbahasa Arab.
“Bahasa memiliki sensitivitas. Ia bukan sekadar kata, tetapi juga soal rasa dan hati. Di situlah keterampilan berbahasa menjadi sangat penting,” jelasnya.
Prof. Imam juga membagikan kisah perjalanan hidupnya sebagai lulusan Madrasah Aliyah Muhammadiyah di Gombong, Jawa Tengah. Sejak menempuh pendidikan di lingkungan Muhammadiyah, ia telah menanamkan tekad kuat untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi ternama, seperti ITS maupun Institut Teknologi Bandung (ITB).
Pengalaman internasionalnya di Jepang turut memperkaya refleksi orasi tersebut. Ia menceritakan dialog dengan para ulama mengenai cara menyampaikan gagasan dan nilai Islam di tengah perbedaan budaya serta bahasa. Dari pengalaman itu, ia menegaskan pentingnya kemandirian intelektual dan karakter kuat dalam menghadapi tantangan global.
“Masa depan kalian masih sangat panjang dan peluang terbuka lebar. Namun, kemandirian intelektual harus terus dijaga. Kalian adalah kader-kader hebat Muhammadiyah dan harapan bangsa Indonesia,” pungkasnya yang disambut tepuk tangan meriah hadirin.
Orasi ilmiah tersebut meneguhkan bahwa Extending The Future Smamita 2026 bukan sekadar seremoni purnawiyata, melainkan ruang refleksi dan penanaman visi besar bagi generasi muda Muhammadiyah untuk unggul dalam ilmu, kokoh dalam iman, dan siap berkontribusi bagi bangsa.
Penulis Nashiiruddin
