
Tiga Guest Teacher asal Turki bersama Sekretaris PCIM Turki Maftuh Ikhsan Nanda Kurniawan disambut ratusan siswa Smamita di Hall lantai 2, Jumat (14/8/2026) Foto: Satrio
Internasionalisasi Muhammadiyah terus diperkuat melalui perluasan jejaring, pertukaran pengetahuan, dan kerja sama dengan berbagai organisasi di mancanegara. Salah satu ikhtiar tersebut dilakukan Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Turki dengan menghadirkan masyarakat internasional untuk mengenal Muhammadiyah secara langsung.
Langkah tersebut diwujudkan melalui kunjungan tiga Guest Teacher asal Turki ke SMA Muhammadiyah 1 Taman (Smamita), Senin–Jumat (10–14/8/2026).
Kunjungan yang difasilitasi Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur tersebut didampingi Sekretaris PCIM Turki, Maftuh Ikhsan Nanda Kurniawan. Tiga Guest Teacher yang hadir yakni Yusuf Kerem Tastan, Tarik Ziyad Kanadikirik, dan Ahmet Salih Yildiz.
Maftuh menjelaskan, kunjungan tersebut merupakan bagian dari hubungan yang telah dibangun PCIM Turki dengan organisasi kepemudaan Turki, YediHilal. Kerja sama itu bermula pada 2024 ketika perwakilan YediHilal berkunjung ke Pimpinan Pusat Muhammadiyah di Jakarta.
“Pada 2024 mereka datang ke Pimpinan Pusat Muhammadiyah di Jakarta. Kemudian terjalin kerja sama. Pada 2025, PP Muhammadiyah memberikan amanah agar hubungan tersebut terus dilanjutkan di Turki,” jelas Maftuh.
Kerja sama tersebut kemudian berkembang menjadi program pembelajaran dan pertukaran pengalaman di Indonesia. Dalam dua tahun terakhir, peserta dari Turki datang untuk mempelajari kehidupan masyarakat Muslim Indonesia, termasuk mengenal lebih dekat gerakan, pendidikan, dakwah, dan kiprah sosial Muhammadiyah.
“Alhamdulillah, sampai sekarang program ini terus berlanjut. Mereka belajar tentang masyarakat Islam di Indonesia, terutama bagaimana Muhammadiyah hadir dan berinteraksi langsung dengan masyarakat,” ujarnya.
Lebih Dekat dengan Masyarakat Internasional
Menurut Maftuh, program tersebut sejalan dengan gagasan internasionalisasi Muhammadiyah yang terus digaungkan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Haedar Nashir.
Internasionalisasi, kata dia, tidak cukup dilakukan melalui forum-forum formal maupun pertemuan antarlembaga. Lebih dari itu, masyarakat internasional perlu diberi kesempatan melihat secara langsung bagaimana Muhammadiyah bergerak di tengah masyarakat.
“Ini merupakan salah satu langkah awal kita untuk membawa orang asing belajar secara langsung di tengah masyarakat tentang dakwah Muhammadiyah, baik dari tingkat ranting, PCM, maupun PDM,” tuturnya.
Dia berharap pengalaman langsung tersebut membuat Muhammadiyah semakin dikenal di berbagai negara. Muhammadiyah tidak hanya dipahami sebagai organisasi Islam yang lahir di Indonesia, tetapi juga sebagai gerakan dakwah yang memiliki kontribusi dalam pendidikan, sosial, kemanusiaan, dan kehidupan masyarakat.
“Harapannya, keberadaan Muhammadiyah di Turki dan negara-negara lainnya semakin dikenal. Mereka bisa melihat langsung bagaimana Muhammadiyah bergerak di bidang pendidikan, sosial, dakwah, dan kemasyarakatan,” tambahnya.
Legalitas Muhammadiyah di Turki Capai 90 Persen
Di tengah upaya memperluas jejaring internasional, PCIM Turki juga terus mendorong penguatan kelembagaan melalui percepatan proses legalitas organisasi.
Maftuh mengungkapkan, proses administrasi dan berbagai persyaratan legalitas Muhammadiyah di Turki saat ini telah mencapai sekitar 90 persen.
“Alhamdulillah, proses perizinan dan persyaratan lainnya sudah sekitar 90 persen rampung. Saat ini tinggal mencari apartemen yang akan digunakan sebagai sekretariat,” ungkapnya.
Menurut Maftuh, proses membangun keberadaan Muhammadiyah hingga memperoleh legalitas resmi di Turki bukanlah pekerjaan singkat. Ikhtiar tersebut telah berlangsung sekitar satu dekade dan membutuhkan konsistensi, kesabaran, serta keseriusan dari berbagai pihak.
Legalitas resmi nantinya menjadi pijakan penting untuk memperkuat kelembagaan sekaligus memperluas ruang gerak Muhammadiyah dalam menjalankan berbagai program di Turki. Dengan status tersebut, Muhammadiyah diharapkan semakin leluasa mengembangkan aktivitas dakwah, pendidikan, sosial, serta kegiatan kemasyarakatan.
“Semoga dengan legalitas ini Muhammadiyah bisa semakin berkibar di dua benua, sekaligus memperkuat misi internasionalisasi Muhammadiyah,” harap Maftuh, yang berasal dari Lamongan.
Dia menegaskan, penguatan Muhammadiyah di Turki bukan sekadar membangun sebuah kelembagaan. Lebih jauh, hal tersebut merupakan bagian dari ikhtiar panjang untuk memperluas jangkauan dakwah dan menghadirkan nilai-nilai kemajuan Muhammadiyah agar semakin dikenal serta memberi manfaat bagi masyarakat di tingkat global.
Penulis Billa Jurnalistik Smamita
