
Genre: Feature Human Interest | Lokasi: SMA Muhammadiyah 1 Taman, Sidoarjo | Waktu: Rabu, 16 April 2025
KARYA JURNALISTIK SMA — FEATURE HUMAN INTEREST
Kisah di Balik Jarum Suntik, Desah Napas, dan Senyum yang Menyelamatkan Generasi Muda (Foto : Jurnalistik Smamita)
Ruang Demokrasi di lantai dua SMA Muhammadiyah 1 Taman (Smamita) Sidoarjo, tampak berbeda dari biasanya pada Rabu pagi, 16 April 2025. Ruangan ber-AC yang biasanya menjadi tempat siswa beradu gagasan dan berdiskusi itu mendadak beralih fungsi menjadi area pemeriksaan medis.
Aroma antiseptik dan minyak kayu putih samar-samar tercium di udara, menyambut puluhan siswa berseragam yang duduk berdampingan dengan para guru dan karyawan sekolah. Wajah-wajah mereka memancarkan ekspresi yang beragam; ada yang melempar tawa renyah untuk menutupi rasa gugup, ada yang saling menggenggam tangan teman di sebelahnya, hingga tatapan waswas yang tertuju pada tabung sampel darah dan tensimeter di atas meja periksa.
Pagi itu, Smamita tidak sedang menyelenggarakan kompetisi akademis. Sekolah ini tengah menggelar acara melalui kolaborasi bersama Puskesmas Taman dalam program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Sebuah ikhtiar kolektif untuk merawat aset paling berharga milik manusia: kesehatan jiwa dan raga.
Saling menenangkan di tengah rasa cemas
Di antara deretan siswa kelas X yang sedang menunggu giliran, tampak Afra Fairuz Arkarna. Siswa kelas X-4 program Tahfidz itu beberapa kali meremas ujung rok seragamnya. Matanya terus melirik ke arah meja pemeriksaan Hb tempat jarum penusuk kapiler berkilat terkena pendar lampu neon. Bagi seorang remaja yang menghabiskan harinya menghafal bait-bait Al-Qur’an dalam ketenangan, kehadiran alat-alat medis di dalam lingkungan sekolah tetap saja memicu detak jantung yang berhembus lebih kencang dari biasanya.
“Sempat awalnya saya merasa kaget karena ada pemeriksaan kesehatan. Awalnya sih memang saya merasa takut, bayangan jarum dan pemeriksaan medis selalu bikin merinding”. Ujar Afra kala itu di selimuti dengan rasa cemas yang sempat menguasai dadanya.
Namun, ketakutan itu tak bertahan lama. Di sekelilingnya, teman sebaya saling melempar candaan ringan memberikan ketenangan.
“Tapi akhirnya saya merasa biasa dan tenang karena ditenangkan oleh teman-teman lainnya. Ternyata prosesnya cepat dan tidak seseram yang saya bayangkan,” tambahnya seraya tersenyum lega setelah melewati meja pemeriksaan gigi dan telinga.
Tak jauh dari Afra, suasana penuh kehangatan juga dirasakan oleh Muhammad Thauriq Alfarizo, siswa kelas X-1. Berbeda dengan kawan-kawannya, Thauriq justru menyambut momentum ini dengan antusias yang membara. Bagi remaja aktif seperti dirinya, kesempatan berkonsultasi mengenai kesehatan secara langsung dengan dokter tanpa perlu mengantre adalah sebuah keistimewaan.
“Pengecekan gratis dari Puskesmas ini menurut saya sangat membantu diri saya dan teman-teman lainnya. Biasanya kita baru cek kesehatan kalau tubuh sudah terasa sakit atau ada keluhan berat saja. Tapi hadirnya cek kesehatan gratis ini membuat kita bisa berbagi cerita, sharing secara terbuka mengenai keluhan kesehatan tubuh yang selama ini sering diabaikan,” ungkap Thauriq dengan tatapan mata berbinar.
Thauriq bercerita bagaimana ia menjalani serangkaian skrining mendalam. Mulai dari pemeriksaan ketajaman penglihatan mata, kebersihan telinga, pelacakan riwayat alergi, hingga sesi wawancara mendalam mengenai kebiasaan harian. “Pihak Puskesmas berpesan agar saya menjaga pola makan secara teratur dan menjauhi rokok. Mereka mengingatkan bahwa awal mula penyakit mematikan selalu bermula dari pola pembiasaan kecil yang sering kita sepelekan dalam keseharian,” kenangnya serius.
| “Langkah ini adalah investasi masa depan. Melalui prinsip dasar ‘cek kesehatan gratis: cegah dini, tuntas obati’, kita tidak hanya menyelamatkan fisik mereka hari ini, tetapi juga membentengi mimpi-mimpi besar anak muda agar tidak runtuh di kemudian hari akibat penyakit yang terlambat terdeteksi.” — Dr. Damara Oky Caesario, Tim Puskesmas Taman |
Skrining Dini, Cegah Penyakit Sejak Sekolah
Di balik kelancaran dan ketertiban alur pemeriksaan di Ruang Demokrasi, ada dedikasi tim medis Puskesmas Taman yang bertugas sejak pagi. Dipimpin oleh dr. Damara Oky Caesario, tim kesehatan ini menerjunkan para tenaga medis antara lain T Puji Hartini, Amd.Kes.Gi, Iin Fadhilah, Amd.Kep, Erika, Amd.Kep, serta Ucik Fauziah, S.K.M. Mereka bergerak cekatan membagi tugas demi melayani ratusan siswa, guru, hingga karyawan Smamita yang sudah mengantre dengan tertib.
Dengan telaten, dr. Damara menjelaskan bahwa perlakuan medis yang diberikan disesuaikan dengan kelompok usia dan risiko kesehatan masing-masing. Bagi para guru dan karyawan sekolah yang sehari-hari banyak menghabiskan waktu dengan bekerja di depan layar, fokus pemeriksaan diutamakan pada pemantauan organ vital serta pencegahan penyakit tidak menular (PTM).
“Kami melakukan cek kesehatan pada guru mulai dari cek kadar gula darah, tekanan darah (tensi), hingga pengukuran lingkar perut untuk menilai risiko gangguan metabolik dan organ vital. Semua data hasil pemeriksaan ini langsung kami input secara real-time ke dalam sistem website CKG milik pemerintah,” terang dr. Damara di sela-sela kesibukannya memeriksa lembar data pasien.
Sementara itu, pendekatan berbeda diterapkan untuk para siswa. Sebagai generasi muda yang sedang berada dalam masa pertumbuhan pesat, kesehatan darah dan indra menjadi perhatian utama. Petugas melakukan penusukan jarum steril di ujung jari siswa untuk mengukur kadar Hemoglobin (Hb) protein dalam sel darah merah yang bertugas mengikat dan mengalirkan oksigen ke seluruh tubuh.
“Pengukuran Hb ini sangat vital, terutama bagi remaja. Kami ingin melihat kadar zat besi dalam tubuh mereka. Jika kadar Hb rendah atau di bawah standar, itu mengindikasikan bahwa asupan zat besi atau nutrisi yang mereka konsumsi sehari-hari masih kurang. Remaja yang anemis akan mudah lemas, mengantuk di kelas, dan konsentrasi belajarnya pasti merosot tajam,” papar dr. Damara menekankan.
Tak hanya darah, kesehatan oral dan pendengaran juga diperiksa tanpa terkecuali. Dengan teliti, petugas mengecek kondisi rongga mulut siswa untuk mengidentifikasi potensi karies atau infeksi gusi sejak dini. “Pemeriksaan gigi dilakukan guna mencegah komplikasi kesehatan yang lebih besar di masa depan. Jika dalam pemeriksaan kami menemukan masalah medis yang dianggap serius dan membutuhkan penanganan tingkat lanjut, Puskesmas langsung menerbitkan surat rujukan agar pasien segera mendapat tindakan spesialis,” imbuhnya.
Pesan Bijak di Balik Meja Periksa: Gaya Hidup Adalah Kunci
Edukasi Gaya Hidup di Meja Periksa
Tak hanya memegang stetoskop dan mencatat angka tensi, dr. Damara juga memanfaatkan momentum CKG ini untuk mengedukasi warga sekolah. Di hadapan para peserta yang bergantian duduk di kursi periksa, ia memberikan penjelasan mengenai pentingnya menjaga gaya hidup sebelum penyakit muncul.
Ia menyoroti kebiasaan makan remaja zaman sekarang yang cenderung gemar mengonsumsi makanan instan berpenyedap tinggi dan bercita rasa ekstrem. Kebiasaan makan makanan yang terlalu pedas, asam, atau tinggi garam secara berlebihan tanpa diimbangi gizi seimbang sering menjadi pemicu utama gangguan lambung hingga terhambatnya penyerapan zat besi.
“Pola hidup sehat itu sebenarnya dimulai dari hal sederhana: pola makan yang baik, nutrisi seimbang, dan olahraga teratur. Banyak orang tidak sadar bahwa kebiasaan seperti gemar makan makanan terlalu pedas bisa berdampak buruk pada sistem pencernaan, memicu gangguan gizi, hingga membuat kadar Hb drop dan tubuh menjadi lemas,” tegas dr. Damara.
Selain kepada siswa, peringatan khusus juga disampaikan kepada para guru dan karyawan sekolah yang sebagian besar menghabiskan jam kerja di depan layar komputer. Dokter Damara mengingatkan bahaya pola hidup kurang gerak (sedenter). Kebiasaan duduk dalam posisi yang sama selama berjam-jam tanpa diselingi peregangan dapat memicu kekakuan otot leher, kenaikan tekanan darah, hingga meningkatnya kadar asam urat dan kolesterol.
“Banyak guru atau pekerja kantor yang kaget saat tahu tensi atau kolesterolnya tinggi. Mereka tidak menyadari bahwa bekerja terlalu lama di depan komputer bisa menyebabkan leher kaku dan gangguan sirkulasi darah. Gejala metabolik seperti asam urat dan kolesterol tinggi bisa mengintai siapa saja yang kurang peduli. Oleh karena itu, menjaga pola hidup sehat baik dari pemilihan makanan maupun aktivitas fisik adalah kunci utama agar tubuh tetap fit,” pungkasnya.
| REFLEKSI HUMANIS: MENJAGA API PENDIDIKAN TETAP MENYALA Kesehatan bukanlah tujuan akhir, melainkan syarat utama bagi berlangsungnya peradaban. Di SMA Muhammadiyah 1 Taman, kolaborasi bersama Puskesmas Taman ini membuktikan bahwa pendidikan holistik tak hanya mengasah kecerdasan intelektual dan spiritual, tetapi juga memelihara raga tempat jiwa itu bersemayam. Ketika seorang siswa bebas dari anemia dan seorang guru terbebas dari hipertensi, proses belajar-mengajar di kelas pun bertransformasi menjadi ruang bertumbuhnya generasi penerus bangsa yang tangguh dan berdaya saing tinggi. |
Investasi Kesehatan Untuk Masa Depan Smamita
Saat jarum jam menunjukkan tengah hari, riuh rendah di Ruang Demokrasi perlahan berangsur surut. Lembar-lembar formulir CKG telah terisi rapi, data-data digital telah terunggah ke sistem nasional, dan raut kecemasan di wajah siswa telah berganti dengan senyum penuh kelegaan. Langkah kolaboratif antara SMA Muhammadiyah 1 Taman dan Puskesmas Taman pada hari itu menjadi bukti nyata, menjaga dan mencegah kesehatan sejak dini jauh lebih utama daripada harus mengobati saat penyakit terlanjur datang.
Membutuhkan komitmen, tetapi membiarkan penyakit merenggut masa depan adalah sebuah kerugian yang tak ternilai harganya. Melalui program Cek Kesehatan Gratis ini, Smamita tidak hanya sedang memeriksa fisik warga sekolahnya; mereka tengah menanam benih kesadaran baru. Sebuah kesadaran bahwa dengan mengenali kondisi tubuh lebih awal, mencegah risiko sejak dini, dan mengobati setiap keluhan hingga tuntas, jalan menuju prestasi dan masa depan yang gilang-gemilang akan terbuka lebar tanpa hambatan.
Di Ruang Demokrasi lantai dua itu, pemeriksaan sederhana pada Rabu pagi menjadi awal dari kesadaran baru: merawat raga hari ini adalah kunci untuk menjaga mimpi-mimpi besar mereka di masa depan.
