• Bahasa Indonesia
  • English

Explore The World

Book a Ticket

Edit Template

Kehilangan Ayah saat Usia 8 Tahun, Yusfia Arismaini Temukan Kekuatan dengan Mencintai Al-Qur’an

Yusfia Arismaini, siswa Tahfidz Class XII-4 Smamita, saat melaksanakan Program Amaliyah Tadris di SD Muhammadiyah 3 Ikrom Foto:Yumna

Menghafal Al-Qur’an bukan sekadar tentang seberapa banyak ayat yang tersimpan dalam ingatan. Lebih dari itu, hafalan menjadi amanah yang semestinya diwujudkan dalam amal dan memberi manfaat bagi sesama.

Semangat itulah yang dirasakan Yusfia Arismaini, siswa Tahfidz Class XII-4 SMA Muhammadiyah 1 Taman (Smamita), saat mengikuti Program Amaliyah Tadris. Kegiatan yang berlangsung pada 24 Agustus hingga 4 September 2026 tersebut menjadi pengalaman berharga sekaligus ruang bagi para siswa untuk mengamalkan ilmu yang telah mereka pelajari di kelas Tahfidz, Jumat (4/9/2026).

Bagi Yusfia, pengalaman pertama mengajar anak-anak SD menghadirkan perasaan campur aduk. Ia mengaku sempat merasa canggung dan khawatir tidak mampu menghadapi karakter anak-anak.

“Awalnya saya merasa canggung dengan anak-anak dan takut untuk mengajar mereka. Namun, lama-kelamaan saya justru merasa enjoy dan happy,” ujarnya.

Menurutnya, anak-anak SD Muhammadiyah 3 Ikrom memiliki karakter yang aktif dan penuh rasa ingin tahu. Mereka tidak segan bertanya, bercerita, bahkan mengungkapkan apa yang sedang mereka rasakan.

“Anak-anak SD Ikrom sangat aktif, suka bertanya dan bercerita tentang apa pun yang mereka rasakan. Akhirnya saya merasa seperti memiliki adik sendiri,” ungkapnya.

Dari Kehilangan Tumbuh Sebuah Harapan

Di balik semangatnya mengajar, tersimpan kisah kehidupan yang membuat perjalanan Yusfia dalam menuntut ilmu Al-Qur’an menjadi semakin bermakna. Yusfia kehilangan ayahnya ketika masih berusia delapan tahun atau saat duduk di kelas II SD.

Meski demikian, pengalaman tersebut tidak membuatnya berhenti menatap masa depan. Justru dari perjalanan hidupnya, tumbuh harapan untuk terus memperbaiki diri melalui Al-Qur’an.

“Harapan saya di kelas Tahfidz, semoga saya bisa mencapai target hafalan, menjaga hafalan, dan mengamalkan ilmu yang saya dapatkan dengan mengajar mengaji,” tutur penerima Beasiswa Tahfidz Smamita ini.

Baginya, hafalan Al-Qur’an bukanlah pencapaian yang berhenti pada kemampuan mengingat ayat demi ayat. Hafalan harus dijaga, dipelajari, dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Prinsip itu pun berusaha ia terapkan di lingkungan keluarganya. Saat ini, keluarga Yusfia mendapat amanah dari Allah SWT untuk mengelola sebuah panti asuhan. Kesempatan tersebut menjadi ruang baginya untuk berbagi ilmu sekaligus mempraktikkan apa yang telah dipelajari di kelas Tahfidz.

“Alhamdulillah, keluarga saya saat ini diberi amanah oleh Allah untuk mengelola Panti Asuhan Al Ikhlas Bilhaq Waru Sidoarjo. Ada sekitar 50 santri yang terdiri dari yatim dan dhuafa. Jadi, saya bisa mengamalkan ilmu yang saya dapatkan di kelas Tahfidz dengan mengajar adik-adik di panti,” katanya.

Dia mengajarkan Al-Qur’an, menyimak hafalan, menemani belajar pelajaran sekolah, serta membantu berbagai kegiatan di panti sesuai dengan kemampuannya.

“Mulai dari mengajarkan Al-Qur’an, mengecek hafalan mereka karena ada kelas Tahfidz juga, menemani belajar pelajaran sekolah, dan membantu kegiatan lainnya semampu saya,” imbuhnya.

Al-Qur’an Jalan untuk Berbagi

Yusfia menyadari bahwa kesempatan belajar di kelas Tahfidz merupakan nikmat yang patut disyukuri. Ia merasa beruntung tumbuh dalam keluarga yang menanamkan nilai-nilai agama dan kepedulian terhadap sesama.

“Saya sangat bersyukur dibesarkan di keluarga yang agamis dan memiliki kepedulian tinggi terhadap orang lain. Saya juga bersyukur bisa bersekolah di Smamita dan masuk di kelas Tahfidz yang menunjang hafalan Al-Qur’an,” ungkapnya.

Bagi Yusfia, perjalanan menghafal Al-Qur’an adalah proses panjang yang membutuhkan kesungguhan, kesabaran, dan doa. Ia berharap hafalan yang dimilikinya tidak hanya menjadi kebanggaan pribadi, tetapi juga menjadi jalan untuk memberikan manfaat kepada orang lain.

Kini, ia ingin terus menjaga hafalannya sekaligus memperbanyak amal yang lahir dari ilmu yang dipelajarinya.

“Saya merasa sangat bersyukur dan senang dibesarkan oleh orang tua yang sangat mencintai diri saya dan juga agama. Sampai saat ini alhamdulillah saya bisa memiliki hafalan 10 juz dan masuk kelas Tahfidz,” tuturnya.

Di penghujung ceritanya, Yusfia menyampaikan sebuah harapan yang begitu personal dan sarat doa.

“Ke depannya, semoga Abi saya di sana bisa merasakan kebahagiaan dan semoga saya bersama keluarga bisa berkumpul kembali di surganya Allah SWT,” pungkasnya.

Kisah Yusfia menjadi pengingat bahwa Al-Qur’an tidak hanya untuk dihafalkan, tetapi juga untuk dihidupkan melalui amal. Dari ruang kelas Tahfidz, ilmu itu kemudian menemukan jalannya mengalir kepada adik-adik di sekolah, kepada anak-anak di panti, dan kepada siapa saja yang membutuhkan.

Sebab, ilmu yang diberkahi bukan hanya yang tersimpan dalam ingatan, tetapi yang tumbuh menjadi amal dan menghadirkan manfaat bagi sesama.

Program Amaliyah Tadris Smamita tersebut dilaksanakan di tiga sekolah Muhammadiyah, yakni SMP Muhammadiyah 2 Taman, MTs Muhammadiyah 1 Taman, dan SD Muhammadiyah 3 Ikrom. Yusfia mendapat kesempatan untuk melaksanakan kegiatan tersebut di SD Muhammadiyah 3 Ikrom.

Penulis Yumna Jurnalistik Smamita

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

SMA Muhammadiyah 1 Taman (SMAMITA) adalah sekolah berbasis Islam unggul prestasi yang berlokasi di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Berlandaskan visi “Shaleh dalam perilaku, unggul dalam mutu, dan berdaya saing global,” SMAMITA mengusung core value RESPECT School (Religious, Smart, Positive, Creative) sebagai budaya sekolah untuk membentuk peserta didik yang beriman, berkarakter, cerdas, dan siap menghadapi tantangan global.

Layanan

Rapor

SKL

Berita

Pengumuman

Resource

Unduh

Pusat Bantuan

Acara

Kontak

© 2025 Created with SMA Muhammadiyah 1 Taman