
Majelis Pendidikan Dasar Menengah dan Pendidikan Nonformal Pimpinan Daerah Muhammadiyah Sidoarjo sedang menggelar pendampingan khusus bersama kepala dan jajaran Smamita Foto:Satrio
Keberhasilan menembus jajaran 18 besar sekolah Muhammadiyah tingkat nasional tidak membuat SMA Muhammadiyah 1 Taman (Smamita) cepat berpuas diri. Capaian tersebut justru dijadikan pijakan awal untuk melangkah ke arena persaingan pendidikan yang lebih luas.
Menanggapi hal itu, Majelis Pendidikan Dasar Menengah (Dikdasmen) dan Pendidikan Nonformal (PNF) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Sidoarjo menggelar pendampingan khusus di Smamita, Rabu (21/10/2026).
Dalam pertemuan tersebut, Smamita secara resmi meneguhkan target untuk menembus 500 besar nasional berdasarkan rerata nilai Tes Kemampuan Akademik (TKA). Target ini menjadi stimulus untuk memperkuat mutu pembelajaran, tata kelola sekolah, pelayanan publik, serta daya saing global peserta didik.
Hadir memberikan arahan, perwakilan Majelis Dikdasmen dan PNF PDM Sidoarjo, Drs. Muhadi, M.Pd. dan Drs. Muflich Hasyim, M.Pd.I., yang disambut langsung oleh Kepala Smamita, Edwin Yogi Laayrananta, S.Pd., S.I.Kom., M.I.Kom., beserta jajaran pimpinan sekolah.
Tiga Pilar Penentu Mutu Pendidikan
Drs. Muflich Hasyim, M.Pd.I. menekankan bahwa peningkatan kualitas sekolah harus ditopang oleh tiga pilar utama yang saling berkaitan: kualitas pendidik, kepemimpinan kepala sekolah, dan lingkungan belajar yang kondusif.
Ia mengingatkan, guru era modern tidak lagi sebatas menyampaikan materi, tetapi harus memicu kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan keterampilan memecahkan masalah pada diri siswa.
“Guru harus terus meningkatkan kompetensi dan menghadirkan pembelajaran yang menarik. Kepala sekolah juga harus menjadi penggerak yang bijaksana serta memastikan pengelolaan anggaran transparan dan fasilitas sekolah terkelola dengan baik,” ujar Muflich, Rabu.
Integrasi 3P dan Budaya RESPECT School
Muflich juga mengarisbawahi pentingnya menyelaraskan prestasi akademik dengan pembentukan adab dan karakter melalui prinsip 3P (Penampilan, Pelayanan, dan Prestasi).
Menurutnya, sekolah yang unggul tidak hanya berorientasi pada capaian angka, tetapi juga wajib menjaga kedisiplinan serta mutu pelayanan pendidikan kepada masyarakat.
Prinsip tersebut sejalan dengan spirit RESPECT School (Religious, Smart, Positive, and Creative) yang dipraktikkan di Smamita. Melalui nilai-nilai ini, sekolah berkomitmen mencetak lulusan yang cerdas secara intelektual sekaligus berbudi pekerti luhur.
Pendampingan Berkelanjutan dan Penguatan Bahasa Global
Sementara itu, Drs. Muhadi, M.Pd. menegaskan bahwa kehadiran tim Majelis Dikdasmen merupakan bentuk evaluasi dan pemantauan mutu secara menyeluruh, bukan sekadar kunjungan formalitas.
Dalam peninjauannya, Muhadi mengapresiasi inovasi Smamita yang menghadirkan penutur asli (native speaker) bahasa Inggris di sekolah untuk melatih keberanian dan kepercayaan diri siswa dalam berkomunikasi internasional.
“Siswa tidak cukup hanya mempelajari bahasa secara teori di kelas, tetapi perlu mendapatkan pengalaman berkomunikasi langsung agar lebih siap menghadapi tantangan lingkungan global,” ungkap Muhadi.
Target 500 Besar Sebagai Pemicu Kualitas
Mengenai target masuk 500 besar nasional TKA, Muhadi mengingatkan agar pencapaian tersebut diposisikan sebagai pendorong perbaikan mutu secara bertahap, bukan sekadar ambisi peringkat semata.
”Capaian 18 besar sekolah Muhammadiyah yang sudah diraih patut disyukuri, tetapi jangan membuat berpuas diri. Target 500 besar nasional harus dimaknai sebagai pemacu untuk memperbaiki proses belajar-mengajar di kelas dari hari ke hari,” tegasnya.
Melalui pendampingan ini, Smamita kian mantap memperkuat posisinya sebagai sekolah Muhammadiyah unggulan di Kabupaten Sidoarjo yang siap bersaing secara nasional dan global tanpa melepaskan nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan.
Penulis Kania Jurnalistik Smamita
