• Bahasa Indonesia
  • English

Explore The World

Book a Ticket

Edit Template

JSC Goes to School di Smamita, Siswa Belajar Peduli dan Bijak Bermedia Sosial

Dinas Sosial Jawa Timur mengajak siswa Smamita untuk Belajar Peduli dan Bijak Bermedia Sosial. Foto: Kania

Satu unggahan di media sosial dapat menjadi jembatan kebaikan. Namun, jika dibuat tanpa berpikir dan memeriksa kebenaran informasi, unggahan tersebut justru dapat menimbulkan persoalan.

Pesan itu mengemuka dalam kegiatan Jatim Social Care (JSC) Goes to School di SMA Muhammadiyah 1 Taman (Smamita), Selasa (29/9/2026).

Bertempat di Ruang Demokrasi Smamita, kegiatan yang digelar Dinas Sosial Jawa Timur ini mengajak siswa memahami persoalan sosial di sekitar sekaligus menjadi pengguna media sosial yang bijak, kritis, dan berempati.

Kegiatan menghadirkan tiga narasumber, yaitu Robi Setyanegara, S.IP., Penelaah Teknis Kebijakan; Denisa Tatiana Lado, S.Sos., Penyuluh Sosial; dan Alfianto Sukma Putra, S.Tr.Sos., Penyuluh Sosial.

Peduli Kelompok Rentan

Robi Setyanegara menjelaskan, Dinas Sosial memiliki peran dalam menangani berbagai persoalan sosial di masyarakat. Penanganan tersebut mencakup anak-anak, lanjut usia, penyandang disabilitas, serta kelompok rentan lainnya.

Menurutnya, kepedulian sosial perlu dibangun dengan menghilangkan stigma negatif, bullying, dan diskriminasi terhadap kelompok rentan.

Ia juga memberikan gambaran tentang pelayanan sosial bagi anak yang membutuhkan pengasuhan melalui Panti Pelayanan Sosial Anak Balita di Sidoarjo.

“Jangan sampai perbedaan kondisi seseorang membuat kita memberikan label atau perlakuan yang berbeda. Setiap orang memiliki hak untuk mendapatkan perlindungan dan kesempatan berkembang,” pesan Robi kepada siswa.

Bijak Sebelum Membagikan Informasi

Robi kemudian mengaitkan persoalan sosial dengan kebiasaan siswa menggunakan media sosial. Ia mengingatkan siswa agar tidak mudah mempercayai informasi yang beredar di dunia maya.

Termasuk ketika menemukan informasi open donation. Siswa perlu memeriksa kebenaran informasi dan kredibilitas sumbernya sebelum ikut menyebarkan atau memberikan bantuan.

Menurut Robi, kepedulian juga harus disertai kehati-hatian. Kondisi kelompok rentan, misalnya, tidak seharusnya dijadikan sekadar bahan konten untuk mendapatkan perhatian di media sosial.

Untuk membantu siswa menghadapi derasnya informasi digital, JSC memperkenalkan prinsip 3P: Pikir, Periksa, dan Peduli.

Pikir, sebelum mengunggah, membagikan, atau memberikan komentar dengan mempertimbangkan dampaknya terhadap orang lain.

Periksa, dengan memastikan informasi yang diterima benar dan berasal dari sumber yang dapat dipercaya.

Peduli, dengan memastikan setiap tindakan di media sosial maupun kehidupan nyata dilakukan dengan empati dan niat baik.

Tiga langkah tersebut menjadi pengingat bahwa kecakapan bermedia sosial bukan hanya kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga tanggung jawab terhadap orang lain.

Jangan Hadapi Persoalan Berbahaya Sendirian

Siswa juga mendapatkan pemahaman tentang langkah aman ketika menghadapi persoalan sosial.

Apabila menemukan situasi berbahaya, seperti orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) yang sedang agresif, siswa tidak dianjurkan mengambil tindakan sendiri. Mereka dapat meminta bantuan orang dewasa atau pihak yang berwenang.

Hal serupa berlaku ketika menemukan kasus bullying. Jika tidak mampu menghentikannya secara langsung, siswa dapat melaporkannya kepada pihak sekolah atau pihak yang berwenang.

Sementara itu, Denisa Tatiana Lado menekankan pentingnya mengenalkan isu kelompok rentan sejak usia sekolah. Menurutnya, pemahaman tersebut dapat membantu siswa membangun empati dan kepekaan terhadap lingkungan.

Ia berharap siswa Smamita dapat tumbuh sebagai generasi yang tidak hanya memiliki pengetahuan, tetapi juga mampu menjadi agen perubahan sosial yang menghadirkan dampak positif di tengah masyarakat.

Siswa Smamita: Peduli Berarti Menjaga Sesama

Pesan para narasumber mendapat respons positif dari siswa. Cahaya Nirmala Cantika, siswi Excellent Class XI-1, menilai kepedulian terhadap sesama merupakan bagian penting dalam menjaga persatuan.

Menurutnya, memberikan dukungan kepada korban bullying juga menjadi bentuk nyata kepedulian yang dapat dilakukan siswa.

Sementara itu, Nikeisha Hasna, siswi Excellent Class XI-1, menyoroti pentingnya menghapus stigma terhadap penyandang disabilitas.

Menurutnya, penyandang disabilitas memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk berkembang dan meraih prestasi.

Kegiatan JSC Goes to School akhirnya tidak hanya menjadi ruang sosialisasi, tetapi juga ruang belajar bagi siswa untuk melihat persoalan sosial dari sudut pandang yang lebih manusiawi.

Siswa Smamita diajak memahami bahwa peduli bukan sekadar merasa iba. Begitu pula bijak bermedia sosial bukan sekadar berhati-hati sebelum mengunggah.

Keduanya membutuhkan empati, tanggung jawab, dan keberanian untuk memilih tindakan yang membawa kebaikan, baik di lingkungan sekolah, media sosial, maupun masyarakat. 

Penulis Yumna Jurnalistik Smamita

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

SMA Muhammadiyah 1 Taman (SMAMITA) adalah sekolah berbasis Islam unggul prestasi yang berlokasi di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Berlandaskan visi “Shaleh dalam perilaku, unggul dalam mutu, dan berdaya saing global,” SMAMITA mengusung core value RESPECT School (Religious, Smart, Positive, Creative) sebagai budaya sekolah untuk membentuk peserta didik yang beriman, berkarakter, cerdas, dan siap menghadapi tantangan global.

Layanan

Rapor

SKL

Berita

Pengumuman

Resource

Unduh

Pusat Bantuan

Acara

Kontak

© 2025 Created with SMA Muhammadiyah 1 Taman