
Keluarga Besar Pensiunan Guru dan Karyawan Smamita sedang berada di Hutan Pinus Mangunan Yogyakarta Foto: Nashiiruddin
Bukan sekadar perjalanan wisata. Bagi keluarga besar pensiunan guru dan karyawan SMA Muhammadiyah 1 Taman (Smamita), perjalanan ke Yogyakarta dan Solo menjadi cara untuk kembali merajut silaturahmi, mengenang masa lalu, sekaligus menikmati kebersamaan.
Kegiatan yang berlangsung Sabtu-Ahad (3-4/10/2026) tersebut diikuti keluarga besar pensiunan guru dan karyawan Smamita. Sejumlah destinasi menjadi bagian dari perjalanan, mulai dari Candi Prambanan, Hutan Pinus Mangunan, hingga Malioboro.
Perjalanan kemudian berlanjut ke Solo dengan agenda mengunjungi Masjid Sheikh Zayed, menikmati kuliner, dan berbelanja di Pasar Klewer.
Namun, ada yang membuat perjalanan tersebut terasa istimewa. Sepanjang perjalanan, suasana bus tidak hanya diisi obrolan dan canda tawa. Lagu-lagu lawas penuh kenangan turut mengalun melalui karaoke bersama.
Sesekali terdengar suara peserta menyanyikan lagu yang mengingatkan mereka pada masa muda. Tawa pun pecah ketika kenangan lama kembali diperbincangkan.
Silaturahmi Beranjak ke Luar Kota
Ketua Pelaksana kegiatan Drs. Zainal Arif Fakhrudi, M.M. mengatakan, perjalanan tersebut menjadi pengalaman baru bagi keluarga besar pensiunan guru dan karyawan Smamita.
“Biasanya kegiatan silaturahmi kita lakukan dari rumah ke rumah, makan-makan bersama. Kali ini menjadi kegiatan perdana yang kita lakukan di luar kota, insyaallah ke Jogja dan Solo,” ujarnya.
Menurutnya, memasuki usia senja bukan berarti berhenti menikmati kebersamaan. Justru, momen seperti ini menjadi ruang untuk refreshing sekaligus menjaga hubungan kekeluargaan yang telah terjalin selama bertahun-tahun.
“Tentu kita semua pada usia senja membutuhkan hiburan dan refreshing. Dan tentunya sangat menyenangkan. Tetapi tetap kita lakukan dengan tiga unsur, yaitu religi, sains, dan kebahagiaan atau happy,” jelasnya.
Bagi para pensiunan, perjalanan tersebut bukan hanya tentang destinasi yang dikunjungi. Lebih dari itu, setiap perjalanan menjadi kesempatan untuk kembali duduk bersama, berbagi cerita, mengenang masa pengabdian, dan mempererat persaudaraan.
Nostalgia Lewat Jajanan Zaman Dulu
Suasana nostalgia bahkan terasa sejak perjalanan dimulai. Para peserta membawa berbagai makanan tradisional yang mengingatkan pada masa lalu.
Di antaranya ongol-ongol, tetel, arem-arem, kukus pisang, kue pukis, tahu bakso, tahu isi, dan beragam jajanan lainnya.
Berbagai makanan tersebut dinikmati bersama selama perjalanan. Sederhana, tetapi justru menghadirkan kehangatan tersendiri.
Makanan-makanan itu seolah menjadi jembatan yang menghubungkan masa kini dengan kenangan masa lalu. Sambil menikmati jajanan, peserta saling bercerita tentang masa muda, keluarga, hingga pengalaman selama mengabdi di Smamita.
Silaturahmi Memories dan Tukar Kado
Selain menikmati perjalanan wisata, kegiatan juga diisi dengan agenda Silaturahmi Memories dan tukar kado.
Agenda tersebut menjadi ruang bagi peserta untuk saling memberikan perhatian sekaligus mengenang persahabatan yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.
Tukar kado berlangsung penuh keakraban. Bukan nilai barang yang menjadi tujuan utama, melainkan kebahagiaan saat memberikan dan menerima sesuatu dari sahabat seperjalanan.
Nuansa religi juga tetap menjadi bagian penting dalam perjalanan. Setelah jamaah melaksanakan shalat Subuh, kegiatan dilanjutkan dengan tausiah penguatan tauhid yang disampaikan Ustadz Drs. H. Najih Ihsan, M.Ag.
Peserta diajak menjadikan perjalanan bukan hanya sebagai sarana refreshing, tetapi juga momentum untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Wakil Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Sepanjang yang akrab disapa Bang Dulla, Dr. Drs. Ec. H. Abdullah Smith, M.M.
Perjalanan Jogja-Solo tersebut akhirnya menjadi cerita tersendiri bagi keluarga besar pensiunan guru dan karyawan Smamita.
Dari Prambanan hingga Malioboro, dari Masjid Sheikh Zayed hingga Pasar Klewer, setiap tempat meninggalkan cerita. Namun, yang paling berharga bukanlah destinasi yang dikunjungi, melainkan kebersamaan yang tercipta sepanjang perjalanan.
Sebab, ketika usia terus bertambah, silaturahmi bukan sekadar bertemu. Ia menjadi cara untuk menjaga persaudaraan, merawat kenangan, dan memastikan ikatan kekeluargaan tetap tumbuh meski masa pengabdian telah usai.
Penulis Billa Jurnalistik Smamita
