
Keluarga besar Smamita melepas Imara Al Hamani, SS studi ke Jepang di Bandara Internasional Juanda, Sidoarjo Foto: Salsa
Alumni SMA Muhammadiyah 1 Taman (Smamita) tahun 2019, Imara Al Hamani SS, bersiap melanjutkan pendidikan di Jepang melalui beasiswa Monbukagakusho (MEXT). Guru sekaligus Koordinator Muhammadiyah International Class Orientation (M-ICO) Smamita itu berangkat pada Rabu (30/9/2026).
Monbukagakusho/MEXT adalah program beasiswa penuh yang diberikan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Olahraga, Ilmu Pengetahuan, dan Teknologi Pemerintah Jepang
Imara akan menjalani studi hingga 2028 dengan durasi sekitar 1,6 tahun. Keberangkatannya ke Jepang bukan sekadar perjalanan melanjutkan pendidikan, tetapi juga bagian dari proses panjang yang bermula dari ruang kelas Smamita, pengalaman berorganisasi, serta nilai-nilai Muhammadiyah yang tumbuh dalam dirinya.
Saat menjadi siswi Smamita, Imara mengaku tidak pernah membayangkan pengalaman selama tiga tahun tersebut kelak menjadi salah satu bekal penting dalam perjalanan hidupnya.
“Tiga tahun menjadi siswi di Smamita rasanya menjadi salah satu proses penting dalam hidup saya. Dulu mungkin saya hanya menjalani sekolah seperti biasa, belajar, ikut kegiatan, bertemu teman dan guru,” tuturnya.
Kesempatan memperoleh beasiswa ke luar negeri membuat perempuan tersebut melihat kembali perjalanan masa lalunya.
“Setelah mendapat kesempatan menerima beasiswa ke luar negeri, saya mulai sadar bahwa banyak hal yang saya dapatkan di Smamita ternyata ikut membentuk diri saya hingga saya sampai di titik ini,” ungkapnya.
Hal-hal yang dahulu terasa sederhana, seperti keberanian berbicara, pengalaman berorganisasi, kesempatan mencoba hal baru, dan lingkungan yang mendorongnya untuk bermimpi lebih besar, menjadi bekal dalam perjalanan Imara.
Berani Bermimpi
Bagi Imara, pendidikan di Smamita tidak berhenti pada pelajaran akademik. Sekolah menjadi ruang untuk membangun keberanian dan kepercayaan diri.
“Di Smamita saya belajar untuk lebih percaya diri, berani mencoba hal baru, dan tidak takut punya mimpi yang besar,” katanya.
Perjalanan menuju pencapaian, menurut dia, juga tidak selalu berjalan mulus. Kelelahan, kegagalan, keraguan, dan proses panjang menjadi bagian yang harus dilewati.
Pengalaman tersebut kemudian menjadi bekal ketika Imara menghadapi berbagai tahapan seleksi beasiswa MEXT.
Lebih dari sekadar alumni sekolah Muhammadiyah, Imara merasa tiga tahun di Smamita menjadi bagian dari proses pembentukan nilai dalam dirinya.
“Bukan hanya sekadar bersekolah di sekolah Muhammadiyah, tetapi perlahan belajar memahami nilai-nilai yang dibawa Muhammadiyah dalam kehidupan sehari-hari,” jelasnya.
Nilai disiplin, tanggung jawab, kepedulian, kebermanfaatan, dan kesadaran bahwa ilmu tidak semestinya berhenti untuk diri sendiri menjadi prinsip yang terus dia pegang.
Pengalamannya sebagai kader di lingkungan Muhammadiyah Cabang Sepanjang juga membuat Imara merasa memiliki identitas dan nilai yang harus tetap dibawa di mana pun berada.
Kini, ketika Jepang menjadi ruang belajar berikutnya, alumni Smamita tersebut ingin nilai itu tetap hidup dalam dirinya.
“Rasanya ada tanggung jawab tersendiri untuk tetap membawa nilai-nilai itu, menjaga sikap, terus belajar, dan sebisa mungkin memberikan manfaat di lingkungan yang lebih luas,” ujarnya.
Bekal hingga Seleksi MEXT
Perjalanan Imara juga tidak lepas dari dunia organisasi. Baginya, organisasi bukan sekadar aktivitas di luar kelas, melainkan tempat belajar yang mempertemukannya dengan banyak karakter, persoalan, dan tanggung jawab.
Dia aktif sejak SMP hingga perguruan tinggi, mulai dari PR IPM Spemduta, PR IPM Smamita, PC IPM Sepanjang, HMJ EDSA UNESA, berbagai kepanitiaan BEM FBS UNESA, hingga kini aktif di PC Nasyiatul Aisyiyah (NA) Sepanjang.
Pengalaman tersebut kembali menemukan relevansinya ketika Imara mengikuti proses seleksi beasiswa MEXT.
“Perjalanan mendapatkan beasiswa ini secara tidak langsung dipengaruhi oleh keikutsertaan dalam organisasi. Saat proses interview, kecakapan berbicara sangat dibutuhkan. Track record di CV juga cukup membantu,” katanya.
Dari organisasi, dia belajar berkomunikasi, bekerja sama, memimpin, menyelesaikan persoalan, sekaligus memahami arti memberi manfaat bagi orang lain.
Smamita Rumah Kedua
Kini Imara bersiap meninggalkan Smamita untuk sementara. Namun, bagi dia, meninggalkan sekolah bukan berarti meninggalkan rumah yang pernah membesarkannya.
“Bagi saya, Smamita bukan hanya tempat saya menyelesaikan pendidikan di bangku SMA. Smamita adalah tempat saya bertumbuh, mengenal diri sendiri, menemukan banyak kesempatan, dan belajar menjadi seseorang yang lebih berani untuk melangkah lebih jauh,” tuturnya.
Dia menyadari kesempatan belajar ke luar negeri bukan sesuatu yang datang secara tiba-tiba. Ada banyak langkah kecil yang telah dilalui sejak menjadi siswi Smamita.
“Kalau sekarang saya mendapat kesempatan belajar ke luar negeri melalui beasiswa, saya merasa perjalanan itu tidak muncul begitu saja. Ada banyak proses kecil yang dimulai dari Smamita, dari lingkungan sekolah, guru, teman-teman, kegiatan, sampai nilai-nilai Muhammadiyah yang diajarkan selama tiga tahun itu,” katanya.
Karena itu, Imara menyebut Smamita sebagai rumah kedua. Tempat yang mungkin dahulu terasa biasa ketika dijalani, tetapi justru semakin bermakna setelah dia melangkah lebih jauh.
“Tempat yang mungkin dulu terasa biasa ketika masih dijalani, tapi setelah berada di titik sekarang, baru terasa betapa banyak hal yang ternyata saya bawa dari sana,” pungkasnya.
Dari Smamita, Imara belajar berani bermimpi. Kini, mimpi tersebut membawanya ke Jepang. Dia berangkat bukan hanya membawa nama pribadi, tetapi juga cerita tentang sekolah, pengalaman organisasi, doa guru dan teman, serta nilai-nilai Muhammadiyah yang tumbuh sejak remaja.
Dari ruang kelas Smamita, langkah Imara kini menyeberang ke Jepang. Di sana, dia ingin terus belajar, bertumbuh, dan menghadirkan kebermanfaatan yang lebih luas.
Penulis Nashiiruddin
