• Bahasa Indonesia
  • English

Explore The World

Book a Ticket

Edit Template

Menggetarkan Hati, Siswa Tahfidz Smamita Sampaikan Khutbah Jumat tentang Ketenangan Jiwa dengan Mengingat Allah

Mirza Hawwary Yukichi Amri, siswa Tahfidz Class SMA Muhammadiyah 1 Taman sampaikan khutbah Jumat bertema “Ketenangan Hati dengan Mengingat Allah SWT” Foto Nashiiruddin

Di tengah kesibukan kehidupan dunia yang kerap menghadirkan kegelisahan dan kecemasan, mengingat Allah SWT menjadi salah satu kunci meraih ketenangan hati. Pesan inilah yang disampaikan Mirza Hawwary Yukichi Amri, siswa Tahfidz Class XII-4 SMA Muhammadiyah 1 Taman (Smamita), dalam khutbah Jumat bertema “Ketenangan Hati dengan Mengingat Allah SWT”, Jumat (9/10/2026).

Dalam khutbahnya, Mirza mengajak jamaah untuk senantiasa bersyukur atas nikmat kesehatan dan kesempatan beribadah yang diberikan Allah SWT. Menurutnya, kesempatan menunaikan shalat Jumat merupakan nikmat yang patut disyukuri, terlebih ketika sebagian orang sedang diuji dengan sakit dan harus menjalani perawatan di rumah sakit.

Ia kemudian mengingatkan jamaah agar senantiasa bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW yang telah membimbing umat manusia dari jalan kegelapan menuju cahaya Islam.

Memasuki inti khutbah, Mirza mengangkat persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, yakni kegelisahan hati di tengah padatnya aktivitas dan berbagai tantangan kehidupan.

“Di tengah kesibukan dan berbagai persoalan hidup, kita perlu senantiasa mengingat Allah SWT. Sebab, ketenangan hati seorang mukmin tidak dapat dilepaskan dari kedekatannya dengan Allah,” pesan Mirza dalam khutbahnya.

Ia menegaskan bahwa Islam mengajarkan umatnya untuk senantiasa mengingat Allah atau dzikrullah sebagai jalan meraih ketenteraman jiwa.

Pesan tersebut berlandaskan firman Allah SWT dalam Al-Qur’an surah Ar-Ra’d ayat 28:

الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِ ۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُ

Artinya: “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”

Tiga Bentuk Mengingat Allah

Dalam penyampaiannya, Mirza menjelaskan bahwa mengingat Allah bukan sekadar melafalkan tasbih, tahmid, dan takbir. Lebih dari itu, dzikir harus hadir dalam hati dan tercermin melalui perilaku sehari-hari.

Ia menguraikan tiga bentuk dzikir yang dapat diamalkan umat Islam.

Pertama, dzikir lisan, yakni membiasakan diri mengucapkan kalimat-kalimat tayibah, memperbanyak istigfar, serta membaca Al-Qur’an.

Kedua, dzikir hati, yaitu menumbuhkan kesadaran bahwa Allah SWT senantiasa mengetahui setiap keadaan hamba-Nya. Kesadaran ini diharapkan mampu menjaga seseorang agar berhati-hati dalam bertindak dan menjauhi perbuatan dosa.

Ketiga, dzikir melalui perbuatan, yakni mewujudkan ketaatan kepada Allah dalam aktivitas sehari-hari, baik ketika bekerja, belajar, maupun berinteraksi dengan sesama manusia.

“Mengingat Allah bukan hanya melalui lisan, tetapi juga dengan hati dan perbuatan. Dzikir seharusnya membuat kita semakin berhati-hati dalam bertindak, menjauhi dosa, dan berusaha melakukan kebaikan dalam kehidupan sehari-hari,” jelasnya.

Mirza juga mengingatkan jamaah tentang janji Allah SWT dalam surah Al-Baqarah ayat 152:

فَاذْكُرُوْنِيْٓ اَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْا لِيْ وَلَا تَكْفُرُوْنِ

Artinya: “Maka, ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku.”

Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa dzikir dan rasa syukur hendaknya senantiasa menyertai kehidupan seorang Muslim, baik ketika memperoleh kelapangan maupun saat menghadapi kesulitan.

Mengajak Diri untuk Terus Berbenah

Menjelang akhir khutbah pertama, Mirza mengajak jamaah untuk tidak berkeras hati dan senantiasa membuka diri terhadap perubahan menuju kebaikan.

Ia mengingatkan bahwa kesempatan hidup yang diberikan Allah SWT hendaknya dimanfaatkan untuk memperbaiki diri, belajar dari berbagai ujian, dan memperkuat hubungan dengan Sang Pencipta.

“Jangan sampai kita terlalu sibuk mengejar urusan dunia hingga lupa memperbaiki diri dan mengingat Allah. Selagi masih diberi kesempatan hidup, mari kita gunakan waktu untuk mendekatkan diri kepada-Nya dan menjadi pribadi yang lebih baik,” ajaknya.

Pesan tersebut menjadi refleksi bahwa perjalanan hidup setiap manusia tidak lepas dari tantangan. Karena itu, seorang Muslim perlu terus berusaha memperbaiki diri dan menjaga ingatan kepada Allah dalam setiap keadaan.

Pada khutbah kedua, Mirza kembali menegaskan pentingnya meningkatkan dzikir kepada Allah SWT. Ia kemudian menutup khutbah dengan doa agar Allah memberikan ampunan, rahmat, ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik, serta menerima amal ibadah seluruh kaum Muslimin.

Khutbah Jumat tersebut menjadi pengingat bahwa ketenangan hati tidak semata-mata dicari melalui kesibukan dunia, tetapi juga melalui kedekatan dengan Allah SWT yang diwujudkan dalam lisan, hati, dan perbuatan.

Dari mimbar Jumat, Mirza Hawwary Yukichi Amri menyampaikan pesan yang sarat makna: di tengah hiruk-pikuk kehidupan, jangan sampai manusia sibuk mengejar dunia hingga lupa mengingat Allah, sumber ketenangan bagi hati orang-orang beriman.

Penulis Nashiiruddin

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

SMA Muhammadiyah 1 Taman (SMAMITA) adalah sekolah berbasis Islam unggul prestasi yang berlokasi di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Berlandaskan visi “Shaleh dalam perilaku, unggul dalam mutu, dan berdaya saing global,” SMAMITA mengusung core value RESPECT School (Religious, Smart, Positive, Creative) sebagai budaya sekolah untuk membentuk peserta didik yang beriman, berkarakter, cerdas, dan siap menghadapi tantangan global.

Layanan

Rapor

SKL

Berita

Pengumuman

Resource

Unduh

Pusat Bantuan

Acara

Kontak

© 2025 Created with SMA Muhammadiyah 1 Taman